Kisah Sumirah, Penenun Jogja yang Coba Menghidupi Warisan Budaya

Oleh Kresna,

Sumirah tak hanya menenun untuk melestarikan, tapi juga menghidupi budaya warisan nenek moyang ini.

BERITA JOGJA – Srek, srek, srek, srek, srek

Begitu bunyi alat tenun milik Sumirah (34) saat digunakan para pengunjung Pasar Tenun Rakyat di Bentara Budaya, Kotabaru Jogja, Minggu 14 Februari. Sumirah berdiri di dekat alat tenun itu sembari memperhatikan Jumiah, temannya, mengajari para pengunjung menenun.

Pengunjung sedang mencoba alat tenun. (Foto: Kresna)

Pengunjung sedang mencoba alat tenun. (Foto: Kresna)

“Ya memang sulit kalau dilihat, kalau sudah terbiasa ya gampang,” ujar Sumirah.

Melihat para pengunjung yang berusia muda mencoba alat tenun mengingatkan Sumirah pada masa kecilnya. Sepulang sekolah dia kerap membantu ibunya, Leginem (60) untuk menenun. Saat itulah ketrampilan menenun itu diturunkan oleh ibunya.

“Belajarnya dari ibu, waktu masih sekolah diminta membantu, akhirnya belajar.”

Di dusun Sejatidesa, Sumberarum, Moyudan, Sleman tempat Sumirah tinggal memang dikenal sebagai desa penghasil kain tenun, khususnya stagen. Seingat Sum, begitu Sumirah akrab dipanggil, sejak zaman neneknya, warga di sana hampir semuanya bekerja sebagai penenun.

Sayang, pekerjaan itu perlahan mulai ditinggalkan. Termasuk Sum sendiri juga pernah melakukan itu. Dia sempat memilih bekerja ditempat lain daripada menenun seperti ibunya. Banyak orang menganggap pekerjaan menenun stagen sudah tidak lagi menghasilkan. “Siapa sekarang yang pakai stagen. Kalau simbah-simbah mungkin masih pakai, kalau anak muda sekarang tidak mau ribet,” ungkap Sum.

Halaman

1 2 3

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar