Konsumen Kritik Larangan Penjualan Pakaian Awul-awul

BERITA JOGJA – Pelarangan penjualan pakaian impor bekas atau awul-awul yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan mendapatkan reaksi keras dari para konsumen awul-awul. Beragam kritikan pun dikeluarkan oleh para pecinta awul-awul. Joko Santosa, seorang warga Wirobrajan mengatakan bahwa pelarangan penjualan awul-awul membuat kalangan bawah yang menjadi pembeli utama akan kebingungan mencari pakaian murah yang layak pakai. Pelarangan […]

BERITA JOGJA – Pelarangan penjualan pakaian impor bekas atau awul-awul yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan mendapatkan reaksi keras dari para konsumen awul-awul. Beragam kritikan pun dikeluarkan oleh para pecinta awul-awul.

istimewa

istimewa

Joko Santosa, seorang warga Wirobrajan mengatakan bahwa pelarangan penjualan awul-awul membuat kalangan bawah yang menjadi pembeli utama akan kebingungan mencari pakaian murah yang layak pakai. Pelarangan penjualan awul-awul dianggap Joko justru akan membuat rakyat kecil kesulitan memenuhi kebutuhan sandangnya.

“Harga di awul-awul murah dan saya sebagai orang gak punya bisa membeli. Coba, dengan uang sepuluh ribu kalau beli pakaian di luar awul-awul bisa dapat apa enggak? Kalau di awul-awul bawa uang sepuluh ribu sudah bisa dapat pakaian. Kalau awul-awul dilarang terus orang yang gak punya duit seperti saya ini disuruh beli baju dimana?,” ujar Joko saat ditemui Beritajogja.id tengah memilih pakaian awul-awul di daerah Taman Siswa, Jumat (06/02) malam.

Senada dengan Joko, Agus Setiawan, seorang mahasiswa di UNY pun mengatakan keberatannya terhadap pelarangan penjualan pakaian awul-awul. Menurutnya pelarangan penjualan awul-awul justru mematikan usaha rakyat.

“Ada ratusan penjual awul-awul di Jogja. Lha kalau dilarang mereka akan kerja dimana? Selain itu konsumen dari pedagang awul-awul ini kan masyarakat kecil. Harga yang murah menyebabkan masyarakat kecil banyak yang mengandalkan awul-awul untuk memenuhi kebutuhan sandangnya. Kalau dilarang, mereka mau beli baju dimana?,” ungkap Agus.

Kurniawan salah seorang pelanggan pakaian awul-awul mengatakan bahwa alasan pemerintah yang mengatakan bahwa awul-awul dimungkinkan tertempel virus maupun bakteri terlalu mengada-ada. Pasalnya, sudah puluhan tahun Kurniawan menggunakan pakaian awul-awul dan masih sehat saja.

“Sudah lebih dari 10 tahun saya membeli dan memakai pakaian awul-awul. Biasanya saya beli di pedagang awul-awul pinggir jalan ataupun saat ada Pasar Malam Sekaten. Selama ini ya gak ada masalah kok. Sakit juga tidak. Pemerintah harusnya bikin penelitian tentang benar tidak ada bakteri atau penyakit di pakaian awul-awul. Jangan cuma melarang dan menakut-nakuti masyarakat,” papar Kurniawan.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar