Korban Bully berdampak bunuh diri

Korban Bully Berpotensi Bunuh Diri

BERITA JOGJA – Kasus kekerasan yang menimpa remaja atau kerap disebut dengan bullying ternyata membawa pengaruh pada proses tumbuh kembang remaja. Bullying baik secara fisik, sosial maupun verbal yang dialami oleh remaja akan memicu lahirnya sifat tidak percaya diri, egois, pemalu, sensitif, kemampuan diri rendah dan mudah depresi. Demikian disampaikan dr. Ratna Dewi dari Rumah […]

BERITA JOGJA – Kasus kekerasan yang menimpa remaja atau kerap disebut dengan bullying ternyata membawa pengaruh pada proses tumbuh kembang remaja. Bullying baik secara fisik, sosial maupun verbal yang dialami oleh remaja akan memicu lahirnya sifat tidak percaya diri, egois, pemalu, sensitif, kemampuan diri rendah dan mudah depresi.

Korban Bully berdampak bunuh diri

Istimewa

Demikian disampaikan dr. Ratna Dewi dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Soerojo Magelang saat mengisi seminar bertema Bullying pada Remaja yang diselenggarakan di Auditorium Fakultas Kedokteran UGM, Sabtu (28/2) yang lalu.

“Korban bullying memiliki karakter sering tampak sedih dan hanya punya teman sedikit serta tidak mampu melindungi diri sendiri juga menjadi sasaran dari pelaku bullying,” terang Ratna.

Ratna menambahkan bahwa tak hanya korban bullying yang mengalami perubahan sikap atau gangguan psikis. Pelaku bullying pun juga mengalami perubahan sikap. Biasanya para pelaku bullying kemudian memiliki sikap mudah marah, gampang merendahkan orang lain, egois, gemar mencari masalah dan sering berburuk sangka.

“Meskipun sama-sama mengalami perubahan sikap, namun dampak yang lebih besar dirasakan oleh korban bullying. Jika tidak ditangani dengan baik bisa berujung pada  bunuh diri,” jelas Ratna.

Senada dengan Ratna, dokter Spesialis Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UGM/RSUP Dr. Sardjito, Prof. Djauhari Ismail juga mengatakan bahwa bullying di kalangan remaja berpotensi dapat mengganggu proses tumbuh kembang anak dan remaja. Perhatian dari orang tua dan orang dewasa (masyarakat) terhadap kasus bullying dianggap menjadi salah satu benteng dari terjadinya kasus bullying.

“Tidak adanya perhatian dan tindakan dari orang dewasa terkadang membuat bullying tumbuh subur di kalangan remaja. Pencegahan kekerasan di kalangan remaja harus ditangani secara serius melibatkan pihak sekolah, orang tua dan masyarakat (orang dewasa). Orang tua dan masyarakat harus memahami pentingnya upaya pencegahan bullying yang terjadi di sekolah,” pungkas Djauhari.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar