LGBT Keluar Medsos, Pesantren Waria Jogja Diancam Segel

Oleh Kresna,

Pondok Pesantren Waria di Jogja mendapat ancaman penyegelan melalui pesan singkat.

BERITA JOGJA -Selama ini isu LGBT ramai dibicarakan di media sosial (medsos). Para pengguna ramai mengeluarkan pikiran dan uneg-uneg LGBT hingga tercipta Pro dan Kontra. Namun perang medsos itu tampaknya tak cukup. Pemikiran dan tindakan pun sudah keluar dari media sosial ke dunia nyata. Jogja pun tak ketinggalan kena cipratan isu ini.

Pondok Pesantren Waria di Jogja mendapat ancaman penyegelan melalui pesan singkat, Jumat (19/2). Dalam pesan singkat tersebut, Front Jihad Islam (FJI) menyampaikan akan menyegel dan menolak keberadaan Pesantren Waria yang sudah berdiri sejak tahun 2008.

Massa FJI ditemui polisi di Ponpes Waria Jogja. (Foto: Kresna)

Massa FJI ditemui polisi di Ponpes Waria Jogja. (Foto: Kresna)

Rina, salah seorang warga yang ngekos di kompleks pesantren waria mengatakan ancaman itu diterima pagi tadi. Begitu mendapat pesan singkat itu, Shinta pun langsung mengungsi.

“Bu Shinta sudah mengungsi sejak tadi pagi. Ini tadi pesan pintu ditutup saja, khawatir kalau didobrak,” kisah Rina

Kapolsek Banguntapan, Kompol Suharno mengatakan pihak menerima laporan dari pengasuh pondok pesantren waria, Shinta Ratri terkait ancaman tersebut. Karena itu pihaknya pun langsung mengambil langkah untuk pengamanan.

“Kami tadi menerima laporan, lalu saya langsung tindak lanjuti cek lapangan. Ini wilayah saya, jadi harus saya amankan,” katanya pada wartawan.

Sesuai dengan pesan singkat tersebut, usai salat Jumat, belasan massa FJI mendatangi Pesantren Waria. Sementara itu pesantren waria sendiri sudah dijaga oleh polisi bersenjata lengkap. Belasan massa FJI tiba di pondok pesantren waria sekitar pukul 14.00 WIB.

“Kami ke sini ingin mengklarifikasi, kami mendapat informasi pondok pesantren waria ini mau membuat fiqih waria. Karena kalau benar maka itu tidak sesuai syariat,” kata Abdulrahman, komandan FJI.

Selain itu FJI juga memastikan jika keberadaan pesantren waria tidak hanya menjadi kedok. Sebab mereka khawatir pondok pesantren waria hanya cara mereka untuk melakukan kegiatan terselubung.

“Kami sudah melakukan investigasi, karena kami ingin memastikan. Kalau memang untuk tobat, itu bagus. Tapi kalau untuk kedok, ini masalah,” pungkasnya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar