Media Jangan Jadi Aktor Bullying Pelaku Kriminal Anak-Anak

Oleh Kresna,

Kevulgaran mengungkap identitas pelaku maupun korban tindak pidana anak tidak hanya terjadi dalam media sosial, tapi juga yang bersifat jurnalistik.

BERITA JOGJA – Perlindungan terhadap korban atau pelaku kriminal oleh anak sering menemui kendala dalam realitas sosial. Misalnya saja, identitas pelaku kriminal yang dilakukan anak disebarkan melalui media sosial bahkan media jurnalistik baik cetak, elektronik, dan televisi. Nama pelaku dibeberkan sejelas-jelasnya beserta alamat dan nama orang tua.

Stop Bully

Dok.Politwika

Padahal, perlindungan terhadap anak pelaku maupun korban diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Hal ini diatur dalam Pasal 64 ayat (2) huruf g mengatur perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa untuk menghindari labelisasi.

“Lalu di Pasal 17 ayat (2) dapat diartikan bahwa kerahasiaan identitas anak enggak hanya ditujukan pada pelaku kekerasan seksual, korban, tapi juga pada anak yang berhadapan dengan hukum,” jelas Roy Al Minfa, pengacara yang sering menangani kasus anak.

Selain menyalahi Undang-Undang, adanya penyebarluasan secara vulgar juga berdampak secara psikologis bagi si pelaku maupun korban kriminalitas. “Ada pelabelan oleh masyarakat yang membaca atau mengetahui kabar tersebut yanng bisa berujung cacian atau makian atau bahkan empati yang berlebihan. Ini sama saja dengan bullying massal dan mengganggu psikologisnya,” terang Rika Vira, Psikolog.

Roy menambahkan bahwa anak yang melakukan aktivitas kriminal juga merupakan korban karena berhadapan dengan lingkungan sekitar. “Anak pelaku kekerasan itu juga korban. Korban lingkungan dan sistem. Jadi jangan dibullying di media sosial atau bahkan media jurnalistik. Sadar hukumlah masyarakat,” katanya.

Halaman

1 2

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar