Memancang Kuda-Kuda Lewat Kepedihan dan Kesepian

Oleh azkamaula,

Kesepian Mengayun Kayu melahirkan karya monumental "Aku Perempuan"

BERITA JOGJA –  Ada orang-orang yang memilih sepi lalu. Sepi tak melulu bermuara kematian melainkan jalan hidup yang lebih kekal. Ayu Saraswati, musisi asal Jogja memilih demikian. Ia menepi ke ruang gelap dan kelam membawa keganjilan, kepedihan, dan segala fenomena yang ditemuinya di keramaian. Persentuhan itu lalu dirangkumnya lewat Mengayun Kayu yang kemudian melahirkan musik sendu yang jauh lebih gelap dari tempatnya menepi lalu mengekal ke ruang pikir pendengar.

Di laman Souncloud-nya, ia mengisahkan perenungannya dalam “Sembunyi” dan “Aku Perempuan”. Pemilihan notasi dan dengungan pianonya menghasilkan suasana gelap yang mudah dirasai pendengar. Kelindan protes memuai dalam baris lirik sendu yang bakal menyayat perasaan mereka yang terbawa suasana.

Ayu, dalam gelap dan sendu mengantarkan suara pianonya merambati kisah sedih pertemuannya di keramaian. “Lidah hasratku diduga terlampau tabu aku perempuan…/Suara hati terhukum mati/Perempuan dan bunyi sunyi luka-luka mengutuk lelaki,” penggalan lirik “Aku Perempuan” adalah bagian gelisahnya melihat nasib perempuan yang dibingkai rekaan etika.

Mendengarkan karyanya seperti sedang diceritai kisah sedih yang terulang tiap zaman di mana kemanusiaan disamakan dengan atribut kepangkatan. Kisah yang cukup relevan hingga hari ini. Namun hasil perenungan itu tak dibuatnya untuk menghancurkan melainkan melindungi diri. “Dalam kegelisahan ini saya hanya bisa bermusik. Bukan untuk menghancurkan, tapi musik yang pedih kadang dibuat untuk memancang kuda-kuda waspada,” bebernya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar