Mengucapkan Selamat Natal Itu Bentuk Kemesraan

Oleh azkamaula,

Ajakkan untuk tidak mengucapkan natal berdalil haram berpotensi merusak keharmonisan antarumat beragama

BERITA JOGJA – Jelang perayaan Natal dan Tahun Baru dalam beberapa tahun terakhir sering diributkan sama hal yang tidak penting. Di media sosial (medsos) misal, banyak bermunculan ajakan untuk kaum muslim untuk tidak mengucapkan natal bagi mereka yang merayakan. Haram dalilnya.

Natal dan Tahun Baru

Ilustrasi harmoni antaragama. (Dok Itsimewa)

Ajakan seperti ini berpotensi untuk memecah belah persatuan dan keharmonisan antarumat beragama di Indonesia. Begitu juga di Jogja yang dikenal sebagai Indonesia kecil karena pandangan kerukunan antarumat di dalamnya.

Hal ini dikemukakan cendekiawan muslim, Emha Ainun Najib ketika mengisi acara Pembukaan gedung baru Perpustakaan Jogjakarta Senin (21/12) lalu. Menurut Emha, mengucapkan selamat natal itu adalah bentuk kemesraan sesama manusia.

“Mengucapkan selamat natal apa salahnya? Itu bentuk kemesraan pada sesama manusia dan tidak akan mengubah kadar keimanan seseorang,” kata cendekiawan yang akrab disapa Cak Nun itu.

Hidup itu sederhana, namun tafsirannya saja yang hebat-hebat, kata Pramoedya Ananta Toer. Barangkali selain itu tafsiran hidup kadang juga berlebihan. Seperti yang dikatakan Emha kemudian, bahwa kalau memang tidak suka dengan pilihan hidup seseorang atau pilihannya terhadap merespon peristiwa, bukan berarti manusia harus memusuhinya.

“Misal, kalau kita menyapa kambing dengan ’embeeek’ begitu apa lantas kita jadi kambing? Kalau kita masuk ke kandang kambing apa kita jadi kambing? Tidak kan. Atau saat ada teman akrab yang menikahi orang yang tidak kita setujui, apa lantas kita tidak datang ke pernikahan teman kita itu? Tidak kan,” sambung Emha.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar