Juan Roman Riquelme

Menjadi Pemalas yang Berdedikasi dan Bermartabat ala Riquelme

BERITA JOGJA – “Marilah kita malas dalam segala hal, kecuali untuk urusan cinta dan minum, kecuali untuk bermalas-malasan.” (Gotthold Ephraim Lessing) Juan Roman Riquelme adalah antidot dari segala yang modern: Ia tak suka ketergesaan, ia bukan orang yang memburu aktualitas, ia menikmati berlama-lama mengerjakan sesuatu. Jika lapangan hijau adalah labirin kota, maka Riquelme adalah Charles […]

BERITA JOGJA – “Marilah kita malas dalam segala hal, kecuali untuk urusan cinta dan minum, kecuali untuk bermalas-malasan.” (Gotthold Ephraim Lessing)

Juan Roman Riquelme adalah antidot dari segala yang modern: Ia tak suka ketergesaan, ia bukan orang yang memburu aktualitas, ia menikmati berlama-lama mengerjakan sesuatu. Jika lapangan hijau adalah labirin kota, maka Riquelme adalah Charles Baudelaire yang tengah melakukan flaneur ketika senja sedang cerah-cerahnya.

Juan Roman Riquelme

Istimewa

Kendati “dikutuk” dengan segala kemalasannya tersebut, Riquelme diberkahi keterampilan yang dimimpikan tiap laki-laki di Argentina: mengolah si kulit bundar. Silakan bayangkan sebentar saja betapa paradoks seorang Riquelme: lihai menggiring bola, tetapi ogah merebutnya, mahir menggocek lawan, tetapi malas berlari.Hingga derajat tertentu, bolehlah kita menilai Riquelme sebagai penari Tango yang eksotis–sekaligus politis.

Tengoklah video gaya bermain Riquelme di laman Youtube, maka Anda akan merasa seperti tengah disodori sebuah film tentang penari Tango yang sepenuhnya direkam dalam tayangan lambat: menjemukan, sekaligus menggairahkan, menggugah, tetapi juga membuat kantuk.

Akan tetapi, justru dengan gerakan semacam itulah tarian Tango yang dimainkan Riquelme menawarkan hal lain: sebuah itikad subversif terhadap kemapanan. Ia seolah sedang menggelontorkan kepada kita berbagai persoalan yang sarat dengan relasi dan ketegangan kuasa ketika tengah menggiring bola.

Seorang eks penari tango kenamaan Argentina yang kini menjadi profesor critical dance studies di University of California, Marta Elena Savigliano, menyebut tarian memiliki makna yang tak sekadar menyangkut teknik menggerakkan dan memainkan tubuh dalam alunan musik tertentu. Bukan pula tentang usaha menyodorkan tontonan yang menghibur dan mendatangkan kesenangan. Tarian, bagi Marta, adalah suatu praktik budaya dengan banyak dimensi.

Dalam banyak tulisannya, Marta, yang merupakan pendiri Global South Advanced Studies (GLOSAS) di Buenos Aires ini menyadarkan bahwa tubuh yang menari tidak semanta menyoal estetika, tetapi juga persoalan politis yang sarat dengan relasi dan ketegangan kuasa. Sebagai praktik budaya, tari melahirkan dan memupuk tubuh-tubuh kreatif sekaligus tubuh-tubuh yang didisiplinisasi.

Tari, jelas Marta lebih jauh, juga merupakan situs di mana diri didefinisikan dan diredefinisikan dalam tegangan (ke)kuasa(an). Di dalam tari ada praktik identifikasi dan juga perjuangan demi pengakuan sebuah identitas, baik dalam konteks gender, seksualitas, ras, etnis atau bahkan identitas kebangsaan.

Dalam sebuah risalahnya yang berjudul Tango and the Political Economy of Passion, Marta secara kritis melihat bagaimana tari, khususnya Tango, mengalami komodifikasi, internasionalisasi, sekaligus eksotisasi dalam pasar ekonomi kapitalis global. Emosi dan estetika Tango tidak hanya menjadi obyek dagangan dan obyek eksotik bagi touristic gaze, tetapi sekaligus menjadi media peneguhan kuasa ekonomi politik kolonial dari Dunia Pertama atas Dunia Ketiga.

Melalui perspektif tersebut, Marta menyebutkan tubuh tari adalah tubuh yang aktif memproduksi narasi diri; tubuh yang dengan sadar menyuarakan suara-suara yang terpinggirkan. Estetika tubuh tari berfungsi secara politis untuk meneguhkan kontrol atau bahkan secara subversif mendestabilisasi kuasa.

Dalam bingkai gender dan seksualitas, segenap detil gerakan Tango–seperti lenggak-lenggok atau meliuknya tubuh, posisi torso, gerak tangan atau hentakan kaki–bekerja untuk mengartikulasikan kesadaran akan peran dan negosiasi antara the dominator dan the dominated.

Pada titik inilah gaya bermain Riquelme memiliki signifikansi dalam melakukan subversifisme diam-diam terhadap sepak bola modern. Melalui gaya “menarinya” yang tak tergesa, Riquelme seolah tengah mengolok-olok setiap strategi njlimet para pelatih dari zaman Gustav Sebes hingga Juergen Klopp, sistem kejar tayang liga-liga besar Eropa yang nyaris tanpa jeda, sampai kepada kehausan berkuasa klub-klub elit yang disimbolisasi oleh trofi dan kemegahan stadion.

Riquelme memang selalu mempertahankan idealisme bermainnya itu di mana pun. “Gaya bermainku tak pernah berubah. Sama saja. Aku bermain sepak bola demi kesenangan,” ujarnya suatu ketika. Dengan sikap seperti itu, patut dimaklumi jika Riquelme begitu enggan bersepakat dengan semangat zaman.

Ketika Alex Ferguson mengajaknya bergabung ke Manchester United, tak butuh waktu lama bagi Riquelme untuk menolak pinangan tersebut. Kultur sepak bola Britania yang lebih mengandalkan umpan-umpan panjang, lari kencang dan tendangan keras, tentu tak pernah membuat Riquelme tertarik. Baginya, sepak bola adalah permainan para libertarian.

Louis van Gaal pernah mencoba memainkan Riquelme ketika di Barcelona sebagai pemain sayap agar ia lebih banyak berlari. Yang terjadi setelahnya: kedua orang tersebut bermusuhan. Riquelme lantas menjadi pesakitan karena terus dibangkucadangkan oleh sang meneer.

Pada Piala Dunia 2010, Riquelme juga sempat membuat Diego Maradona–yang menjadi pelatih Argentina kala itu–disumpahserapahi publik lantaran tak mencantumkan namanya untuk dibawa ke Jerman. Maradona lebih memilih Juan Sebastian Veron: pemain yang sejatinya tak kalah lambat dari Riquelme. Adapun yang membuat Veron memiliki nilai “lebih” ketimbang Riquelme adalah karena ia memiliki tato Che Guevara di lengan kirinya. Seperti Maradona.

Di Boca Juniors, Riquelme sempat menggugat gaya pragmatis sang pelatih, Julio Falcon. Katanya: “Falcioni membuatku tampak seperti orang bodoh!”. Ia juga membuat Martin Palermo, rekan satu timnya di Los Xeneizes–julukan Boca–, enggan berbagi ruang kamar ganti. Nama Riquelme di La Bombonera memang terlalu wangi. Dan ia menyadari betul hal tersebut dengan berkata:

“Nomor punggung 10 Boca Juniors adalah milik saya. Ketika ada pemain lain yang bisa mendapatkan lebih dari tiga Piala Libertadores bersama Boca, maka barulah mereka bisa mengklaim nomor tersebut.”

Riquelme tak ubahnya seorang penjaga menara panoptikon yang menjulang tinggi: begitu dingin, begitu kuno. Ia terus memantau modernitas, atau siapa saja orang yang sekiranya bakal bersebrangan dengan dirinya. Ia seperti orang yang sengaja bermusuhan dengan waktu. Seumpama ia adalah seorang sopir bus, maka musykil bagi Riquelme untuk memacu gas kencang-kencang dan berkejaran dengan pengemudi lain demi uang setoran.

Seperti yang pernah disebutkan Jorge Valdano suatu ketika:

“Jika kami harus berjalan dari A ke B, semua orang akan masuk jalan tol dan sampai tujuan dengan secepet mungkin, kecuali Riquelme. Dia akan memilih jalan yang berkelok-kelok di pegunungan yang akan menghabiskan waktu enam jam lamanya. Tapi dengan itulah dia akan mengisi mata kita dengan pemandangan yang serba indah.”

Melalui kaki Riquelme, kita telah melihat semuanya: yang indah dan yang politis, yang bergegas dan yang pemalas. Selamat menikmati hari tua, Penyihir!

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar