Suasana Selamat Pagi Vol 10 di Dusun Krapyak (Foto: Azka)

Menuju Jogja Ibu Kota Musik Bersama Kampung Halaman

Semoga juga selalu terus melahirkan banyak musisi hebat berkualitas yang tak pernah berhenti berkarya dan nantinya akan memberikan predikat baru Jogja sebagai Ibu Kota musik Indonesia.

Suasana Selamat Pagi Vol 10 di Dusun Krapyak (Foto: Azka)

Suasana Selamat Pagi Vol 10 di Dusun Krapyak (Foto: Azka)

BERITA JOGJA – Sama halnya gudeg, bakpia, dan tempat-tempat wisata, musisi adalah aset Jogjakarta. Mereka adalah harta karun yang perlu dijaga, dirawat, dan dipamerkan. Satu sampai dua dekade lalu, aset Jogja ini terawat dengan baik di tiap ruang. Pensi sekolah dan event-event besar selalu menempatkan para musisi lokal di panggung utama. Karya musik lokal pun diapresiasi dengan baik. Ada charts di tiap radio, tempat inkubasi seperti Alamanda sebagai tempat pendewasaan bermusik, dan pecinta musik lokal yang selalu memenuhi tiap panggung.

Zaman berganti, pun kondisi musik Jogja. Selama beberapa tahun terakhir banyak yang beropini bahwa para musisi lokal mulai terpinggirkan. Mereka tak lagi mendapat banyak ruang dan waktu yang nyaman. Masing-masing musisi lokal mulai klandestin mendapatkan ruang setelah Pensi tak banyak lagi meletakkan mereka di sorot lampu terang. Di tengah sesaknya ruang, dua tahun lalu muncul ruang yang kini akhirnya mulai membangkitkan kerinduan seperti dekade lalu.

Adalah Yayasan Kampung Halaman (YKH) yang memberi banyak sekali ruang untuk tiap musisi di Jogja memamerkan karya lewat berbagai ajang dan event. Dari banyak event itu pula, YKH yang terletak di Dusun Krapyak, Desa Wedomartani, jadi tempat berkumpulnya banyak musisi muda Jogja yang sedang merangkak. Salah satu event yang cukup menyatukan para musisi lokal itu adalah Selamat Pagi.

Selamat Pagi adalah event dua bulanan yang menghadirkan anak-anak muda kreatif Jogja. Selamat Pagi memberi ruang anak muda Jogja memamerkan media karya mereka di halaman kantor YKH di Dusun Krapyak, Desa Wedomartani, Sleman, Jogjakarta. Media karya berupa musik dari band-band lokal Jogja, rupa, penemuan di bidang sains, dan tentu saja lapak kreatif murah meriah dipamerkan di halaman kantor YKH yang berada tepat di Lembah Dusun.

Halaman kantor YKH menyisi Sungai Kelanduan di lembah dusun. Panggung Tepi Sungai, begitu teman-teman YKH memberi nama panggung semen sederhana yang dibuat di bawah rindangnya pepohonan halaman kantor. Panggung ini selalu diisi band lokal Jogja yang rata-rata punya karya berkualitas namun jarang mendapat ruang di daerah sendiri. Di depan panggung, YKH mengampar tikar untuk para penikmat musik mendengarkan karya-karya band lokal ini. Lapak kreatif memanjang di sebelah tikar pengunjung Selamat Pagi. Di sana dipamerkan usaha kreatif anak muda berupa kerajinan tangan sampai makanan. Sementara itu, karya perupa muda berupa lukisan, patung, instalasi, dan video dipamerkan di dalam kantor dan di halaman.

Saya menikmati benar ketika kali pertama ke event itu awal 2016 kemarin. Saya menemukan ruang di mana setiap anak muda bebas berkarya dan menyuarakan kegelisaha lewat berbagai media. Ada panggung sederhana di tepi sungai dengan band-band lokal yang bikin geleng-geleng kepala lalu misuh mesra penanda pujian. Pengunjung Selamat Pagi pun mengingatkan saya akan Jogja di masa lalu di mana ada apresasi tinggi terhadap karya. Di titik ini saya melihat YKH mampu menyatukan para seniman muda melalui karya dan apresiasi dari penikmat. Pemandangan itu pula yang membuat saya tak pernah absen bersantai di setiap ajang mereka karena mampu mengingatkan Jogja puluhan tahun lalu.

Saya sempat berbincang dengan orang-orang di dalamnya. Mereka tak pilih-pilih karya atau seniman. Saya sempoat ditunjukkan karya video anak muda di Gunungkidul yang masih berusia 14 tahun saat pameran Dapur beberapa waktu lalu. Para anak muda ini berkeliling dari rumah ke rumah mengenalkan pangan tradisional Gunungkidul yang hampir punah. Mereka menerimanya dan memamerkannya di khalayak. Ada juga puisi-puisi siswa dan siswi Sekolah Dasar (SD) yang turut dipamerkan.

Pemandangan lain yang saya temukan ketika beberapa kali main ke YKH adalah selalu ramai dengan musisi yang saling berdiskusi karya mereka. Dari sana saya banyak tahu musisi lokal yang punya karya keren. Ada Summerchild, Illona, Korekayu, Suar, Secangkir Senja, The Doels, Gypsi Django, Sungai, dan banyak lagi lainnya. Iklim YKH yang sudah dibuat sedemikian rupa sejak menahun lalu membuat persaingan antarmusisi tampak sehat dan tak lagi klandestin karena YKH tak hanya menyediakan ruang untuk menggodog karya namun juga memproduksi lalu mengenalkannya ke khalayak.

Apa yang mereka lakukan adalah upaya yang patut diacungi jempol dan diikuti penyedia ruang lainnya di Jogja. Semoga YKH terus memberi ruang tanpa batas bagi para musisi Jogja. Semoga juga selalu terus melahirkan banyak musisi hebat berkualitas yang tak pernah berhenti berkarya dan nantinya akan memberikan predikat baru Jogja sebagai Ibu Kota musik Indonesia.

Polkadot
Pecinta Musik Indie

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar