Menyandarkan Naluri Berkesenian di Pundak Perupa Muda

Materi visual yang disajikan punya gagasan kuat menyangkut pemikiran tentang kebersamaan.

BERITA JOGJA – Tema “kebersamaan” merupakan latar belakang gagasan pameran bersama enam perupa muda alumni ISI Yogyakarta dan Akademi Desain Visi Yogyakarta (ADVY) di Jogja Gallery, jalan Pekapalan no.7, Alun-alun Utara Jogja,  mulai Kamis (15/12).  Pameran yang akan berakhir 7 Januari 2017 (Baca: Kebersamaan Ala Pameran AKAP) ini mengetengahkan sekitar 15 karya kontemporer beragam genre yakni abstrak, realis, surealis, dan instalasi. Materi visual yang disajikan pun memiliki gagasan kuat menyangkut pemikiran tentang kebersamaan (dalam perbedaan) ini.

Mari kita simak karya abstrak AT Sitompul berjudul “Menahan Hasrat” dengan teknik cipratan ala Pollock yang sengaja disandingkan dengan garis-garis serba presisif. Noktah-noktah warna-warni yang bertumpuk-tumpuk empat hingga lima layer tanpa pola tertentu, berbagi ruang dalam satu frame dengan linier-linier hitam-putih. Kontradiksi antara ekspresi intuitif bersanding dengan ekspresi presisif namun tetap menemukan keseimbangannya.

Menyimpan Rahasia karya AT Sitompul

Menyimpan Rahasia karya AT Sitompul

Dalam konteks kehidupan sosial keseimbangan tidak terjadi begitu saja, ia bermula dari adanya ruang untuk berdialog. Perbedaan tidak serta-merta menjadi sumber perpecahan dan konflik jika dialog dikedepankan. Demikian ide dasar karya Luddy Astaghis dalam karyanya bertajuk “Percakapan”. Bagaimana mungkin kesepahaman yang berangkat dari perbedaan-perbedaan dapat dicapai tanpa melalui adanya percakapan dua arah? Percakapan pun ternyata memiliki dua sisi, selain sisi positif, ia juga dapat menjadi sumber konflik apabila memang sedari awal ditujukan untuk memecah-belah kebersamaan. Polemik, permusuhan, dan gejolak politik sangat mudah tersulut jika latar belakang percakapan adalah konspiratif, apalagi bermaksud menyembunyikan logika positif dan fakta-fakta sebenarnya.

Percakapan Kosong karya Luddy Astaghis

Percakapan Kosong karya Luddy Astaghis

Luddy masih mempertahankan figur-figur bervolume sebagai subject matter bahasa visual untuk karya-karya mutakhirnya. Bidang kanvasnya riuh dengan figur-figur komikal laki-laki maupun perempuan yang datang dari berbagai latar belakang profesi. Dalam karya sepuluh panelnya itu, nampak tiap-tiap panel bagai sebuah fragmen dimana dua atau lebih figur saling melakukan interaksi. Dan tentu saja tiap panel mengandung narasi yang tak sama bahkan terlihat random, nampak beberapa diantaranya seperti adegan percakapan ringan, guyonan, intimidasi, hingga perkelahian.

Berbanding terbalik dengan karya-karya Luddy yang riuh, Suharmanto mengetengahkan seekor kuda jantan di atas kanvasnya yang berukuran cukup besar. Kuda adalah satwa bersifat komunal yang  juga memiliki “kelasnya”. Namun, bagi Suharmanto hanya kuda kelas pekerja (baca: kuda beban) yang memiliki nilai fungsi guna paling besar karena tenaganya dapat dinikmati oleh orang banyak, termasuk bagi sang kusir dan keluarganya.

Karya Suharmanto: Ordinary Horse

Karya Suharmanto: Ordinary Horse

Seekor kuda yang hadir di kanvas nampak proporsif dan terlihat sebagaimana kebanyakan kuda lokal. Sadel dan tali kekang masih terikat pada tubuhnya. Ada kesan paradoks karena gambaran akan naluri bebas-merdeka yang melekat pada kuda, dinegasikan oleh sadel dan tali kekang sebagai gambaran akan beban-tanggungan hidup. Secara visual lukisan berjudul “Ordinary Horse” ini terlihat menarik karena diselesaikan dengan menggunakan teknik pallet. Torehan-torehan cat minyak dengan pallet itu memberikan dampak ekspresif, kesan ini diperkuat oleh coretan-coretan berupa teks yang nampak spontan dan cepat pada bagian-bagian kanvas yang kosong.

Gusmen Heriadi menghadirkan visual dengan teknik realis berupa motif dan lekuk kulit satwa langka gajah, macan tutul, buaya, badak, dan kuda nil sebagai subject matter. Pada bagian kanvas yang lebih luas terdapat kolase lekukan tekstil berwarna mutiara yang membuatnya terkesan mewah. Sebuah ironi, betapa bulu macan tutul, kulit buaya, cula badak, gading gajah, dan gigi kuda nil diselundupkan dari benua Afrika dan Asia, menempuh jarak ribuan kilometer setiap harinya hanya untuk dialihfungsikan menjadi komoditas pencitraan manusia.

Karya Gusmen Heriadi: Prestisius

Karya Gusmen Heriadi: Prestisius

Barang-barang mewah dan super mewah yang mencitrakan sebuah kelas sosial hilir-mudik di pusat-pusat peradaban bahkan patron moralitas masyarakat dunia. Karya lima panel bertajuk “Prestisius” ini sengaja memasuki dimensi kritikal untuk meneruskan tema besar sebelumnya mengenai identitas dan globalisasi.

Masih mengusung tema kritik terhadap konsumerisme-hedonisme, sebuah karya abstrak gigantik Dedy Sufriadi bertajuk “We are the Greatest Shopper” terinspirasi dari film animasi anak-anak berjudul Curious George. Di tangan Dedy Sufriadi, tokoh protagonis seekor simpanse bernama George yang selalu ingin tahu itu tidak dapat menahan keinginannya untuk menjadi manusia. Sehingga ia harus meniru apapun yang biasa dilakukan manusia. Ia mengamati bahwa berbelanja adalah perilaku manusia yang paling umum. Maka George pun mulailah berburu barang-barang di pusat perbelanjaan.

Hingga pada akhirnya George menyadari berapapun uang yang ia habiskan untuk berbelanja, tidak akan mengubahnya menjadi seorang manusia. Simpanse tetaplah simpanse. Demikian kisah dibalik karya abstrak bertekstur dengan latar berwarna hitam pekat yang dipenuhi coretan-coretan intuitif berupa grafiti serta bentuk-bentuk dan figur-figur khas Dedy Sufriadi.

Karya Dedy Sufriadi :Greatest Shopper

Karya Dedy Sufriadi :Greatest Shopper

“See and Feel” pada intinya berbicara mengenai respons M.A Roziq terhadap kecenderungan dalam mengapresiasi sebuah karya seni. Nilai seni bisa jadi lebih mudah ditemukan ketika rasa dan intuisi didahulukan. Konteks gagasan dan perjalanan kreatif sang seniman adalah juga pertimbangan lain dalam menimang sebuah manifestasi dari kontemplasi dan olah rasa yang mewujud menjadi karya seni, alih-alih menggunakan pisau logika yang hanya mempertimbangkan persoalan-persoalan teknis belaka.

Sebanyak 180 buah tube bekas cat minyak dalam posisi berdiri ditempelkan di atas kanvas lima panel. Tube yang ditata sedemikian rupa mengikuti gradasi warna itu pada masing-masing ujungnya terdapat sebuah mata boneka. Barangkali mata-mata boneka itu dimaksudkan sebagai gambaran dari mata hati. Betapa pentingnya kejernihan mata hati untuk dapat merasakan getar sebuah karya seni.

Karya M.A Roziq

See and Feel karya M.A Roziq di Pameran AKAP

Melalui seluruh materi visual yang disuguhkan oleh keenam perupa, kita simak betapa semangat kebebasan mereka dalam menyampaikan kegelisahan yang dituturkan melalui karya-karya beragam visual dan media. Mereka bukanlah kuda dengan sadel dan tali kekang. Kendati hampir sebagian besar karya yang dipamerkan mengandung dimensi sosial, namun mereka berkarya dengan bebas zonder beban moralitas atau pretensi-pretensi. Mereka hanya ingin menyandarkan naluri berkeseniannya pada semangat ‘harmonisasi beragam nada’.

Kepada keenam perupa yang berpameran, selamat merayakan kebersamaan. Semoga pameran ini mampu merevitalisasi apapun keterkaitan yang sedang dijalani. Kebersamaan yang sebenarnya adalah kekuatan. Ilmu pengetahuan juga kekuatan, namun demikian sikap dan cara pandang kita adalah yang utama. We feel strong cause we are together!

Tulisan dan Foto oleh Dedi Yuniarto

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar