LGBT (Dok.Istimewa)

Menyebarkan Kebencian LGBT Bisa Dipidana, Tapi Kenyataannya?

Oleh Jatu Raya,

Mengeluarkan pendapat dibarengi seruan kebencian atau imbauan melakukan tindak kekerasan terhadap LGBT adalah tindakan melawan hukum.

BERITA JOGJA – Lebih dari sepakan medsos menunjukkan kelatahan disertai gegar sosial terhadap Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Mayoritas berlomba-lomba mengemukakan penolakannya pada LGBT berdalih agama, kesehatan, budaya, berpeluru disonansi kognitif yang makin memunculkan gelombang penolakkan.

LGBT (Dok.Istimewa)

LGBT (Dok.Istimewa)

Dampaknya lebih mengerikan. hinaan, cacian, lalu kutukan muncul di dinding atau lawan medsos beserta ajakan turun ke jalan yang berpotensi lahirnya kekerasan fisik.

Setuju atau tidak setuju dengan orientasi seksual LGBT itu hak masing-masing orang. Tapi urusannya bakal berbeda ketika mengeluarkan pendapat dibarengi seruan kebencian atau imbauan melakukan tindak kekerasan terhadap LGBT di medsos. Itu sudah masuk wilayah sekaligus melawan hukum.

Persoalan penyebaran kebencian ini diatur dalam Surat Edaran (SE) Kapolri soal Hate Speech Nomor SE/06/X/2015. Pada hurug (g) disebutkan ujaran kebencian sebagaimana dimaksudkan dalam SR bertujuan menghasut dan menyulut kebencian terhadap individu dan atau kelompok masyarakat dalam berbagai komunitas yang dibedakan dari aspek yaitu suku, agama, aliran kepercayaan, keyakinan atau kepercayaan, ras, antargolongan, warna kulit, etnis, gender, difabe, dan orientasi seksual.

Penjelasan media apa saja yang dilarang digunakan untuk menyebarkan kebencian selanjutnya diatur dalam huruf (h) yaitu dalam orasi kegiatan kampanye, spanduk atau banner, jejaring media sosial, demonstrasi, ceramah keagamaan, media massa cetak atau elektronik, dan pamflet.

Apapun dalih yang dipakai untuk menyebarkan kebencian, jelas sudah melawan hukum yang dibikin negara untuk melindungi semua kelompok dalam masyarakat. Sayangnya, realitas menunjukkan belum adanya tindakan tegas atau usaha pencegahan yang mampu melindungi mereka yang jadi kaum minoritas baik di dunia maya maupun nyata.

Coba ingat kejadian di Jogja 20 November 2014 lalu. Sejumlah aktivis dan transgender mengalami kekerasan fisik oleh orang tak dikenal saat memeringati Transgender Day of Rememberance di Tugu Jogja. Seorang transgender mengalami retak di bagian kepala dan punggung memar akibat tendangan dan pemukulan orang tak dikenal tersebut.

Kendati demikian kasus itu laiknya bensin dalam tanki yang terbuka: cepat menguap. Belum ada kelanjutan yang konkret dalam penanganan kekerasan semacam ini. Tak adanya penanganan yang serius dalam kasus minoritas di Jogja jadi salah satu faktor mengapa masih banyak kekerasan yang terjadi pada minoritas, khususnya LGBT. Wong yang di dunia nyata saja tidak diapa-apakan.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar