Sultab HB IX

Merenungkan Kembali Keistimewaan dalam Benak Sultan HB IX

BERITA JOGJA -Dalam tradisi Jawa, memeringati hari lahir seseorang, terlebih sosok besar di angka ganjil bukan hal yang luar biasa. Beda dengan peringatan 50 atau satu abad kelahiran. Begitu juga dengan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX yang satu abad kelahiranya sudah diperingati secara khusyuk tiga tahun lalu. Saya juga tidak melakukan ritual khusus memeringati […]

BERITA JOGJA -Dalam tradisi Jawa, memeringati hari lahir seseorang, terlebih sosok besar di angka ganjil bukan hal yang luar biasa. Beda dengan peringatan 50 atau satu abad kelahiran. Begitu juga dengan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX yang satu abad kelahiranya sudah diperingati secara khusyuk tiga tahun lalu.

Sultab HB IX

Istimewa

Saya juga tidak melakukan ritual khusus memeringati hari kelahiran sosok besar dalam benar warga Jogja ini. Saya tidak membeli dupa, bertapa, atau menggelar tahlilan untuk mengenang Sultan. Saya memeringatinya dengan cara saya sendiri: Menyuruh para jurnalis mengumpulkan kisah Sultan, berjalan-jalan keliling Jogja, lalu mengunjungi makamnya.

Dari kisah yang dikumpulkan oleh teman-teman Jurnalis, blusukan Kota, sampai ke makamnya saya mendapati bahwa Jogja kekinian telah melupakan Sri Sultan.

Keistimeaan Jogjakarta sendiri secara politik telah diakui oleh negara usai Sultan menyatakan kerelaannya bergabung dengan NKRI usai proklamasi. Keistimewaan Jogja makin membesar dan terkenal lalu secara tidak langsung mulai diakui juga karena karena Sultan. Selama memimpin Jogja, Sultan menularkan nasionalismenya pada warga. Warga Jogja saat itu diminta untuk mengindonesiakan para pendatang dan diri mereka dan pada mahasiswa pendatang. Tidak ada Jawa, Sunda, Aceh, Papua, Timor, dan lain sebagainya kecuali Indonesia.

Salah satu penafsiran keistimewaan di luar konteks kenegaraan dalam benak Sri Sultan cukup legendaris. Menurut Sultan keistimewaan berarti pemangku kebijakan melakukan semua hal hanya dan untuk kemakmuran rakyat. Rakyat di atas tahta dan pemimpin adalah pelayan bagi rakyat. Lalu ada lagi tentang bagaimana seharusnya manusia hidup yang dalam benak Sri Sultan harus berdampingan, beretika, berbagi dan saling mencintai satu sama lain.

Dari dua fakta sejarah yang telah dicatat dalam banyak literatur itu terlihat bahwa keistimewaan dalam benak Sultan tidak terpusat pada Kraton, kantor pemerintah, atau dirinya sendiri selaku raja. Ia memusatkan keistimewaan secara komunal, pada rakyatnya. Ketika merelakan bergabung dengan NKRI, ia tak sembarangan mengatasnamakan rakyat. Dalam wawancaranya dengan wartawan senior Julius Pour, Sultan mengalami proses kontemplasi yang panjang. Ia bertindak hati-hati agar tak menyakiti rakyatnya. Nyatanya, saat mendeklarasikan menggabungkan diri, rakyat Jogja setuju.

Perkara mengapa ia meminta warga ikut mengindonesia adalah bentuk dari keseriusan Jogjakarta bergabung denan NKRI. Sultan pun melempar keistimewaan ke tangan rakyat dengan disambut dengan keharmonisan antarwarga. Adrianus Mooy, Gubernur Bank Indonesia periode 1988-1993 asal Pulau Rote saat berkuliah di Jogja merasakan benar keharmonisan itu. Puncaknya, meski tak pernah bertemu langsung dengan Sultan semasa kuliah, ia merasa punya hutang budi dengan memuat wajah Sultan ke lembar uang Rp10 ribu tahun 1992.

Dua hal tersebut, dalam peringatan 103 tahun kelahiran Sri Sultan patut untuk direnungkan. Apalagi di tengah kondisi Jogja saat ini. Kalapnya pembangunan demi mempertebal salah satu keunggulan Jogja sebagai kota wisata yang menuai banyak protes rakyat seolah menandakan diambilnya keistimewaan yang dititipkan Sultan HB IX. Dampak domino pun muncul di kalangan generasi muda saat ini. Sultan pernah menitipkan tugas pada generasi muda agar mengindonesia. Artinya di Jogja, sekalipun itu rakyatnya sendiri, perlahan menanggalkan identitas kedaerahan dan bahu membahu menciptakan keharmonisan demi Indonesia.

Mari renungkan keistimewaan. Apakah tiap-tiap dari kita masih berpijak pada pondasi keistimewaan yang ditafsirkan lalu ditiipkan Sultan, atau mungkin keistimewaan itu malah kita koyak sendiri demi pundi pajak dan sertifikat pendidikan.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar