Miras Oplosan Kekinian vs Miras Oplosan 90-an

Oleh Jatu Raya,

Miras oplosan kekinian lebih berbahaya dibanding tahun 90-an.

BERITA JOGJA – Minuman keras (miras) oplosan di Jogja jadi musuh utama petugas kepolisian sejak akhir 2015 lalu. Puluhan korban berjatuhan gara-gara menengak minuman haram ini. Bahkan anak di bawah umur pun mengonsumsi miras yang dijual bebas. Polsek Mantrijeron misalnya yang mengamankan empat pelajar yang hendak menginsumsi miras di Lapangan Minggiran Mantrijeron, Senin (8/2) siang tadi.

Miras

Istimewa

Miras oplosan di Jogja sebenarnya mulai jadi pilihan sejak tahun 1980-an. Tepatnya 1985, ketika sekelompok geng pemuda yang diyakini bernama Laki-Laki Pecinta Dosa (Lapendos) mulai mengonsumsi miras jenis Lapen di Jalan Solo. Lapendos ini kemudian menginspirasi pemuda lainnya untuk mengonsumsi lapen yang tahun 90-an dijual Rp2 ribu.

“Dulu jualnya pas di depan Swalayan. Harganya Rp2 ribu, lumayan mahal tapi jauh lebih murah dibanding minuman pabrikan yang dijual waktu itu,” terang Agus Kobra, warga sekitar Jalan Solo.

Agus menjelaskan bahwa banyak pemuda yang mengonsumsi miras oplosan jenis lapen kala itu karena tidak mampu membeli minuman pabrikan. Hanya mahasiswa berduit yang kala itu mampu membeli minuman keras pabrikan.

“Kami dulu melihat Lapendos terus kebawa. Soalnya mau mabuk enak pakai miras pabrikan tidak sanggup beli. Jadilah lapen minuman yang murah meriah sampai sekarang,” jelas Agus yang sehari-hari bekerja di toko Jam ini.

Pakde Heris, penjual nasi goreng Jawa di bilangan Samirono Lama ingat betul saat-saat itu. Dibanding kekinian, ia menyatakan pemuda saat itu tahu diri dengan tidak mencampurkan bahan berbahaya di minuman lapen.

“Dulu jarang sekali ada yang tewas karena lapen atau miras oplosan. Soalnya campurannya ya biasa saja. Sekarang campurannya ngeri-ngeri, ada detergen lah, salep nyamuk lah, ” terangnya.

 

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar