Kwangen Lor

Mitos Cinta di Sekitar Dusun Kwangen Lor Gunungkidul

Tradisi tidak saling menikahkan anak di antara lima dusun diawali adanya perseteruan tanah pemakaman untuk menguburkan jasad Kiai Jonge

BERITA JOGJA – Dusun Kwangen Lor terletak di sebelah utara Desa Pacarejo, Gunungkidul. Kwangen Lor menjadi dusun terbesar di Desa Pacarejo dengan jumlah hunian sekitar 340 Kepala Keluarga (KK) dengan penduduk yang rata-rata bekerja sebagai buruh harian dan bertani palawija.

Sebagai dusun terbesar di Desa Pacarejo, Kwangen Lor laiknya padukuhan lain punya asal-usul menarik. Menurut sesepuh Dusun, Sutiman, nama Kwangen sendiri berarti wewangian atau kewangian yang berasal dari bahasa Jawa Kuno. “Asal-usulnya saya tidak tahu pasti, tapi kwangen itu bahasa jawa lama. Artinya wewangian atau kewangian karena kata orang tua zaman dulu Dusun di sini punya banyak kembang wangi untuk upacara-upacara tradisional,” ceritanya.

Terdapat catatan dalam falsafah hindu klasik mengenai istilah kwangen ini. Kwangen merupakan lambang wewangian yang menyimbolkan keharuman Tuhan. Masih dalam falsafah hindu, Kwangen digunakan dalam berbagai upacara Pancayadnya dan salah satu sarana penting untuk melengkapi banten pedagingan untuk mendasari suatu bangunan.

Kwangen Lor

Rawa Jonge di sekitar Dusun Kwangen Lor. (Foto:Istimewa)

Di utara Dusun terdapat Rawa Kiai Jonge yang cukup terkenal di Gunungkidul. Nama Jonge sendiri diambil dari seorang Kiai bernama Jonge yang dipercaya sebagai orang pertama yang tinggal di wilayah sekitar Dusun. Kiai Jonge, disebut-sebut sebagai penasehat Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Wonokusumo.

Noto Karjo, Juru Kunci Danau Jonge, mengisahkan bahwa warga di sekitar telaga dilarang untuk saling menikah. Larangan ini sangat dipatuhi oleh lima dusun di sekitar, termasuk Kwangen Lor. Tradisi tidak saling menikahkan anak di antara lima dusun diawali adanya perseteruan tanah pemakaman untuk menguburkan jasad Kiai Jonge.

“Dulu kelima dusun tersebut sempat terbagi dalam dua desa, yaitu Desa Menthel dan Desa Kwangen. Kiai Jonge yang berasal dari Kwangen memperistri seorang gadis Desa Menthel. Masing-masing warga dari dua desa tersebut menginginkan agar penguburan jenazah tersebut berlokasi di wilayah desa mereka. Karena tak ada kesepahaman, tiap warga membangun kuburan bagi Kiai Jonge baik di Desa Menthel dan Kwangen,” jelasnya.

Pada siang hari, Dusun Kwangen biasanya sepi ditinggalkan warga yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ada yang ke sawah mengurus Palawija atau ke wilayah lain untuk bekerja. Menjelang magrib, keramaian di rumah-rumah penduduk mulai terlihat. Mesra antaranggota keluarga di teras-teras rumah atau halaman jadi pemandangan yang meneduhkan.

Di Dusun Kwangen Lor ternyata cukup sering terjadi kebakaran. Yang paling baru di kediaman Tugiyah. Barang-barangnya terbakar secara muisterius yang dipercaya sebagai ulah jin. Sebelumnya ada juga beberapa kebakaran. Ada satu rumah yang terbakar hanya gara-gara satu batang korek api, ada juga yang karena korslet listrik, lupa mematikan kompor, dan lain sebagainya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar