Muncul kasus meresahkan, Polda Jogja bina preman dan geng pelajar

Oleh Kresna,

BERITA JOGJA – Munculnya kasus kenakalan pelajar yang berujung pada premanisme dan kekerasan membuat Polda Jogja menggelar operasi pembinaan terhadap kelompok-kelompok yang terindikasi melakukan hal tersebut. Menurut Dirbinmas Polda Jogja, Kombes Cahyo Budi Siswanto dari operasi tersebut pihaknya telah melakukan pembinaan terhadap pelajar, tukang parkir, debt colector, pengamen dan geng motor. “Kita sudah berkali-kali melakukan […]

Premanisme dan geng pelajar

BERITA JOGJA – Munculnya kasus kenakalan pelajar yang berujung pada premanisme dan kekerasan membuat Polda Jogja menggelar operasi pembinaan terhadap kelompok-kelompok yang terindikasi melakukan hal tersebut. Menurut Dirbinmas Polda Jogja, Kombes Cahyo Budi Siswanto dari operasi tersebut pihaknya telah melakukan pembinaan terhadap pelajar, tukang parkir, debt colector, pengamen dan geng motor.

“Kita sudah berkali-kali melakukan pembinaan, ke sekolah-sekolah itu ada 15 kali, kemudan tukang parkir dan pengamen, karena ada indikasi melakukan pemaksaan, kemudian debt colector dan komunitas motor itu sekitar lima kali, dan beberapa kelompok lain yang terindikasi melakukan premanisme,” katanya pada wartawan, Selasa (24/2).

Salah satu yang alasan polisi membina kelompok-kelompok tersebut supaya tidak lagi terulang kasus seperti pembacokan geng motor dan juga kekerasan seperti yang terjadi pada siswi yang disekap di Bantul. “Kita tidak ingin ada lagi kasus-kasus seperti itu. Karena itu kita lakukan pembinaan, kita ingin memutus latar belakang yang mungkin bisa menyebabkan hal-hal seperti itu,” ungkapnya.

Dari operasi tersebut pihaknya juga mengamankan sejumlah pelaku premanisme yang meresahkan warga. “Selain pembinaan kita juga adakan patroli dan razia, hasilnya ada lima kasus miras, dengan barang bukti 229 botol miras, ada kasus senjata tajam dan pencurian,” tandasnya.

Dia berharap warga juga turut berpartisipasi aktif untuk membantu kerja polisi menjaga keamanan dan ketertiban dilingkungan masing-masing.

“Kenapa ada pelajar tatoan? Bagaimana orangtuanya mendidik? Bagaimana sampai ada geng-geng motor? Ini yang harus kita selesaikan, masyarakat juga harus berpatisipasi dalam melakukan pembinaan, sampai ketingkatan keluarga,” himbaunya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar