Tugu Jogja (Foto: Jatu Raya)

Musim Bedhidhing: Romantisme dan Kengerian Jogja Tahun 80-an

Romantisme Jogja tahun 1980-an mendadak lenyap ketika para Gali diburu

BERITA JOGJA – Bedhidhing adalah istilah Jawa untuk menyebut perubahan suhu yang mencolok. Istilah ini sering digunakan ketika peralihan musim hujan ke kemarau. Ditilik dari klimatologi, bedhidhing ditemui di awal musim kemarau dengan cuaca malam hingga pagi yang sangat dingin. Biasanya terjadi di bulan Juni hingga Agustus.

Capek selfie, duduk-duduk dulu di pembatas jalan. (Foto: Aristides)

Santai di ruang publik jadi favorit saat Musim Bedhidhing (Foto: Jatu)

Musim bedhidhing di awal tahun 80-an sangat disukai warga Jogja. Saat itu, para mahasiswa menyebutnya dengan bulan roman. Ketika malam dengan dingin menusuk, makan mie rebus atau jahe hangat di angkringan jadi kebiasaan. Mereka cekakan bersama teman nongkrong setelah menghangatkan badan.

Bedhidhing juga membuat penjual ronde di Jogja banyak bermunculan. Mereka biasanya berjualan di tempat-tempat yang biasanya disinggahi mahasiswa, salah satunya di Gelanggang mahasiswa UGM atau di pinggir jalan sekunder Jogja.

Bagi mahasiswa atau warga yang malas keluar. Mendengarkan radio ditemani secangkir teh hangat jadi pilihan. Lagu-lagu macam “Have You Ever Been In Love” Leo Sayer, “Fly Away” Stevie Wood, sampai Chrisye jadi pelengkap menemani malam dingin atau teman membaca surat dari kekasih yang menunggu di Pulau Seberang.

Namun di pertengahan tahun 80-an, situasi sama sekali berbeda. Para penjual ronde tak lagi menjamur seperti awal dekade. Bunyi ketukkan piring dari penjual ronde samar lalu terganti letusan pistol. Penjual mie rebus dan angkringan pun tak bertahan hingga tengah malam. Musim bedhidhing makin senyap ketika ditemukannya banyak mayat bertato sejumlah tempat. Jogja senyap kala peristiwa penumpasan Gabungan Anak Liar (Gali) yang awal 80-an mesra-seperti pemaparan Siegel dengan Orde Baru (Orba) tiba-tiba diburu.

Para mahasiswa dan warga banyak yang bersembunyi di kost dan kontrakan berselimut kecemasan. Pagi harinya, mayat yang ditemukan jadi tontonan warga dan menghiasi headline surat kabar. Pemerintah menyebutnya Operasi Penumpasan Kejahatan (OPK), namun koran lebih senang menyebut peristiwa penembakkan itu dengan Petrus atau Penembakkan Misterius atau ada juga yang menyebut operasi clurit. Butuh waktu lama situasi Jogja kembali nyaman usai Petrus. Sayangnya, setelah itu bedhidhing tak lagi sama.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar