Ilustrasi nyanyi (Dok NYdailynews)

Musisi Doyan Lip Sync, Enggak Bosan Bohongin Fans?

Oleh Jatu Raya,

Tukang bohong mending pensiun lalu jadi Menteri Penerangan saja.

Ilustrasi nyanyi (Dok NYdailynews)

Ilustrasi nyanyi (Dok NYdailynews)

BERITA JOGJA – Tahun 1991, Nirvana jadi buah bibir di Amerika. Mereka protes ketika disuruh tampil lipsync dalam acara TV Top of The Pops. Protesnya juga enggak di belakang panggung sama produser atau sebelum hari H, tapi pas tampil di depan kamera dan ratusan orang.

Waktu itu semua alat mati kecuali microphone Kurt. Biasa, mic dihidupkan sama si punya hajat buat menyapa fans dan seolah-olah mereka nyanyi beneran. Waktu masuk part lirik, Kurt nyanyi dengan nada tepat tapi beda oktaf. Lagu Smells Like Teen Spirits jadi terdengar lucu dengan suara Kurt yang nge-bass. Apalagi waktu Kurt mengganti lirik awal jadi “Load up on drug, kill your friends”

Alan Jackson melakukan protes yang sama tiga tahun usai Nirvana bikin heboh di acara gede ACM awards yang disiarkan live. Sebelum manggung, produser bilang kalau Alan Jackson kudu lipsync. Dia enggak mau dan menjelaskan ke produser kalau lipsync sama saja membohongi fans yang nonton. Produsernya tetap keras kepala.

Pas manggung, Alan Jackson protes. Dia bilang sama Bruce Rutherford, drummernya, buat melepas stik drum. Jadinya penonton heran kenapa drumnya bisa bunyi padahal enggak dipukul. Muse tahun 2009 juga protes di atas panggung dengan menukar instrumen antarpersonel seperti yang dilakukan Iron Maiden tahun 1986 ketika tampil di Jerman.

Oasis, J.J Cale, The Stranglers, dan Johny Rotten juga melakukan protes yang sama di atas panggung. Di Indonesia, ada The Sigit yang tegas menolak undangan banyak acara musik TV yang menyuruh main lipsync atau minus one. Begitu juga Musikimia, Fatin, dan Slank.

Banyaknya band atau solois yang berat hati, sedikit rela, rela, sampai yang senang banget lipsync itu dampak dari matinya industri musik Indonesia. Rilisan fisik berupa CD atau beli lagu tunggal di internet sudah enggak sama lagi seperti zaman dulu. Titip jual di restoran atau mini market berjejaring juga enggak mendongkrak penjualan. Lahan buat nyari duit ya dari konser atau di acara TV. Sayangnya demi perut rela lipsync lalu membohongi fans yang datang atau yang nonton di rumah.

Fans yang nonton itu enggak sekadar mau dengerin lagu yang dibawain sama nonton tampang musisi saja. Ada juga yang pengen banget tahu perkembangan musisi idolanya. Sejauh mana sih si anu bisa nyanyi atau si ini mainin part melodi dibanding album pertama. Cara ngukurnya ya lewat tampil live di TV. Sayangnya stasiun televisi yang suka banget nge-lipsync belum paham sampai ke sana.

Musisi di Indonesia juga kudu dijewer nih perut sama kupingnya. Masa iya enggak punya posisi tawar sama sekali sama stasiun TV. Protes aja enggak berani. Percuma dong sering bilang kalau bikin musik itu kudu jujur, dari hati, dan lain-lain kalau akhirnya mau juga tampil lipsync lalu membohongi fans.

Percuma juga selalu ngomong STOP Pembajakan berdalih tidak menghargai karya yang dibuat musisi bersangkutan kalau masih doyan lipsync dan membebankan aksi live seperti kaset atau file yang mereka punya di rumah. Fans juga perlu dihargai sama kejujuran para musisi.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar