Ilustrasi bangsawan (Foto: KITLV Leiden)

Nama-Nama Perkumpulan Kaum Bangsawan di Jogja

Oleh Jatu Raya,

Selo Soemardjan mencatat ada tiga perkumpulan bangsawan yang muncul usai pengubahan sosial di Jogja pasca kemerdekaan.

BERITA JOGJA – Kaum bangsawan di Jogja, khususnya keturunan kerabat Kraton, mengalami masa keemasan saat berkuasanya Hindia Belanda. Mereka mendapat posisi sosial khusus di masyarakat dan selalu hidup enak. Kereta beroda emas jadi alat transportasi kaum bangsawan agar prestise di masyarakat tetap terjaga. Mereka jadi penghubung Kraton dengan rakyat dan dengan penguasa lainnya dalam hal ini pemerintah Belanda.

Ilustrasi bangsawan (Foto: KITLV Leiden)

Ilustrasi bangsawan (Foto: KITLV Leiden)

Namun sejak kedatangan Jepang ke Jogja, ditambah kebijakan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX yang membuka Kraton untuk umum perlahan membuat kaum Bangsawan kehilangan fungsinya. Prestise mereka turun, kalah dengan kaum intelektual dan pegawai negeri yang mulai naik daun di masyarakat.

Inflasi yang melanda Indonesia saat zaman pendudukan Jepang jadi titik mula kemerosotan kaum bangsawan. Diceritakan Selo Soemardjan dalam Perubahan Sosial di Yogyakarta, inflasi yang diiringi kemerosotan produksi makanan dan komoditi membikin bangsawan menjual barang-barangnya untuk membayar hutang pada pedagang Tiongkok dan memenuhi kebutuhannya. Di lain sisi, pendapatan kaum bangsawan dari tunjangan yang diberikan Kraton juga menurun.

Usai kemerdekaan, posisi kaum bangsawan semakin terjepit dan kalah pamor dengan PNS. Ekonomi tambah berat bagi mereka karena kaum bangsawan yang diangkat menjadi PNS juga tidak lagi bisa hidup mewah seperti dulu. Bahkan rumah-rumah besar kaum bangsawan di Jogja akhirnya disewakan untuk kantor atau sekolah agar mendapatkan penghasilan tambahan.

Maurice Halbwach, sosiolog, berpikiran manusia punya rangkaian memori kolektif yang susah untuk dilepaskan dan selalu punya ruang untuk menghidupkannya kembali. Memori kolektif itu ada pada kaum bangsawan yang posisinya tak lagi seperti masa pemerintahan Belanda. Untuk mengenang masa lampau dan membantu anggota keluarga yang kesulitan, berdirian pula perkumpulan-perkumpulan kaum bangsawan di Jogja.

Selo Soemardjan mencatat ada tiga perkumpulan bangsawan yang muncul usai pengubahan sosial di Jogja pasca kemerdekaan. Ada Trah Sukawati, yang berisi keturunan Sultan HB I. Perkumpulan ini bertujuan untuk mempererat ikatan keluarga. Mereka mendirikan sekolah yang awalnya untuk keluarga sendiri namun akhirnya dibuka untuk umum.

Perkumpulan kedua, dari catatan Selo adalah Among Wandono. Bangsawan perkumpulan ini dibatasi hanya keturunan Sultan hingga generasi ketiga. Perkum[ulan Among Wandono dibagai menjadi dua seksi berdasar jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Seksi laki-laki berkegiatan kumpul bareng saat Idul Fitri dan menarik sumbangan anggota bagi anggota yang kehilangan keluarga.

Sementara seksi perempuan berkegiatan untuk berkunjung ke tempat-tempat tertentu. Misalnya stasiun radio setempat, percetakan, pusat latihan militer, dan lain sebagainya,

Ketiga, ada perkumpulang bangsawan Ngesti Tomo yang anggotanya daru kalangan bangsawan semi aristokrat yang berkegiatan saling membantu antaranggota. Meski mempunyai anggota yang berbeda-beda, tiga organisasi ini masih tegak lurus dengan langit, artinya masih mengakui dan mengharapkan Sultan HB IX selalu jadi pemimpin mereka.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar