Ngerock di Lembah Krapyak Bersama LaBunyi#1

Oleh azkamaula,

Kampung Halaman merilis album kompilasi Hasbiandi dan Opatua di Dusun Krapyak.

BERITA JOGJA – Jogja selalu melahirkan solois dan band berkualitas: konsep jelas dan punya cara asyik dalam bersenang-senang. Karya musisi Jogja pun tak kalah asyiknya dengan konsep maupun stage act mereka di panggung. Seperti halnya Opatua dan Hasbiandi, yang baru ditemukan oleh Komunitas Kampung Halaman bersama JR Youthcoop.

Solois Hasbiandi dan Opatua ini lahir melalui proses perenungan panjang dari sebuah gerakkan Komunitas Kampung Halaman bernama LaBunyi. Dua musisi berkualitas Jogja, Momo Captain Jack dan Farid FSTVLST pun ikut membidani para anak muda yang memainkan musik rock selama satu tahun penuh.

“Sangat menyenangkan selama satu tahun itu. Kami diskusi, workshop, dan banyak kegiatan lainnya. Mereka ini pada dasarnya sudah punya basic musik tapi tidak tahu harus diapakan musiknya,” cerita Momo.

Opatua, Hasbiandi, dan Momo berkolaborasi (Foto: Azka Maula)

Opatua, Hasbiandi, dan Momo berkolaborasi (Foto: Azka Maula)

Proses dan kerja keras Kampung Halaman bersama Jogja Youth dan para mentor melahirkan album kompilasi LaBunyi#1 yang berisi tiga lagu keren. Hasbiandi yang meneriakkan “Paranoid” dan  Opatua denga Cendekia Rajatega, juga  kolaborasi laBunyi bersama kelompok gamelan Grayce Soba.

Ketiganya pun dimainkan Minggu (29/5) lalu dari pagi hingga siang di lembah dan tepi sawah Dusun Krapyak.

Panggung kecil dibangun di depan rimbunan pohon bambu.Di kiri panggung terhampar sawah yang dipisahkan sungai kecil. Para warga sekitar ikut meramaikan peluncuran album dengan membuka lesehan kuliner memanjang dari sisi kanan panggung. Minuman hangat dan makanan pedesaan jadi teman tamu undangan maupun warga lainnya.

Opatua dan Hasbiandi tampil beringas dalam peluncuran itu. Mereka memainkan musik-musik rock yang ngetren tahun 70-an ala Led Zeppelin dan Judas Priest namun dengan sound kontemporer.

Sekilas mirip dengan Wolfmother, namun dengan pemlihan sound yang dekat dengan telinga Asia Tenggara, lagu-lagu mereka berada di dimensi yang tepat. Kolaborasi pun tak kalah berbobotnya. Sound delay Momo berpadu dengan komposisi nada gamelan ditambah gemercik air laiknya alam bernyanyi.

“Wewawo, wewawo, wewawo,” teriak tamu undangan dan para warga yang berarti we want more menutup konser peluncuran album yang sangat sederhana tersebut.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar