Nyabu di Candi Boko, Buruh Tani Dituntut 4 Bulan

Oleh Jatu Raya,

BERITA JOGJA – Desember 2014. Usai menyawah, terdakwa kasus penyalahgunaan narkotika,HF, menghisap sabu bersama rekannya di Gazebo Candi Bokoharjo. Ia tidak langsung pulang ke rumah usai bekerja, namun menemui rekannya, Jarot (DPO) yang kemudian memberikannya sabu. “Saya hanya buruh tani, sehari dapat Rp20 ribu. Enggak bisa beli sabu. Jarot yang ngasih, Pak Hakim,” kata terdakwa […]

BERITA JOGJA – Desember 2014. Usai menyawah, terdakwa kasus penyalahgunaan narkotika,HF, menghisap sabu bersama rekannya di Gazebo Candi Bokoharjo. Ia tidak langsung pulang ke rumah usai bekerja, namun menemui rekannya, Jarot (DPO) yang kemudian memberikannya sabu.

Penjara

Istimewa

“Saya hanya buruh tani, sehari dapat Rp20 ribu. Enggak bisa beli sabu. Jarot yang ngasih, Pak Hakim,” kata terdakwa ketika diperiksa di Pengadilan Negeri (PN) Sleman, Rabu (1/4) di depan Majelis Hakim yang diketuai Marlyus SH.

Marlyus merasa kasihan dengan kondisi HF sebagai buruh tani yang harus menghidupi keluarga dan ibunya. Tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menjerat HF dengan Pasal 127 huruf a Nomor 35 Tahun 2009 selama empat bulan akan dipikirkannya selama satu pekan.

“Ayahmu sudah tiada, Ibumu sudah tua. Sama kita berarti. Uang bulananmu juga segitu. Kasihan saya, tunda dulu saja vonisnya. Musyawarah dulu saya,” kata Marlyus.

Hal lain yang membuat iba Hakim adalah selama di penjara, HF tidak pernah ditengok istri. Bahkan HF sendiri digugat cerai oleh istrinya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar