Pameran Seni Lorem Ipsum: Totalitas yang Jauh Dari Kehampaan Paripurna

Oleh Jatu Raya,

Pameran Seni Lorem Ipsum di Sangkring Art Project menunjukkan totalitas dan independensi para seniman.

Para seniman Pameran Seni Lorem Ipsum (Foto: Jatu Raya)

Para seniman Pameran Seni Lorem Ipsum (Foto: Jatu Raya)

BERITA JOGJA – Membuat satu pameran yang berangkat dari pemahaman filsafat bukan perkara mudah. Cenderung sulit bahkan menjaga keyakinan itu di tengah kebenaran interpretatif penikmat seni saat banyak karya disajikan di depan para mata dan perasaan yang telanjang.

Gelaran Pameran Seni Lorem Ipsum: Sisyphus The Stone yang dibidani Komunitas Jago Tarung berada dalam ruang yang tepat. Berangkat dari pemahaman atas gagasan kaum stoik, pameran mereka tidak melenceng dari warisan bagaimana seharusnya menjalani hidup: otentik, gagah, dan memegang teguh totalitas diri yang jauh dari kehampaan paripurna.

Seperti yang dituliskan Dedi Yuniarto dari pihak Jago Tarung, pergolakkan dunia dalam realita kontemporer hingga yang paling menyedihkan saat Negara abai, membuat dunia seni rupa karut marut. Praktisi perupa pun tak sedikit yang mengibar bendera putih di tengah situasi demikian. Namun 12 seniman dengan karyanya dalam pameran berada di koridior tepat menantang zaman dan realita sosial laiknya jenderal di medan perang yang tegak berdiri menghadapi ribuan panah yang siap menghujam.

“Pameran ini masih memiliki korelasi dengan pameran Jago Tarung tahun 2012 lalu ‘And The Cocks are Still Fighting” di Magelang. Maksud utamanya yakni menyemangati sprit kreativitas seniman-seniman independen untuk terus menerabas keterbatasan dan menjaga profesionalitas kerjanya,” beber Dedi Yuniarto.

Karya Bibiana Lee, Daniel Rudi Haryanto, Dedy Sufriadi, Dedy Shofianto, Franziska Fennert, Ida Bagus Putu Purwa, Ismanto Wahyudi, Joko ‘Gundul’ Sulistiono, M.A. Roziq, Safrie Efendi, Suharmanto, dan Wayan Paramartha tidak kehilangan ciri masing-masing. Karya-karya mereka menunjukkan kerja keras, independensi, dan ketegaran dalam ruang seni rupa yang kini tak lagi ramah.

"Homage Series Pain GrRc" Dedy Sufriadi (Foto: Azka Maula)

“Homage Series Pain GrRc” Dedy Sufriadi (Foto: Azka Maula)

Simak “Homage Series Pain GrRc” Dedy Sufriadi yang tetap keras kepala dengan ekspresionisnya. Persetan dengan sedang ramai lukisan yang bagaimana seni rupa sekarang, Dedi tetap berkutat pada lukisan abstrak eksperimental. Seperti karya-karyanya terdahulu seperti “Monalisa” Dedi mengedepankan intuisi ketimbang logika sembari mengacaukan kebenaran interpretatif pada penikmat.

Pun dengan Suharmanto yang dikenal sebagai seniman yang memaparkan realitas sosial dalam kanvasnya dengan bayangan objek yang seperti adanya atau jadi penanda. Karyanya yang berjudul “Friend’s Shadow” dalam pameran kali ini pun demikian. Ia melukis seekor ikan yang tubuhnya teriris pisau dapur dengan bayangan kepala ikan besar.

"Friend's Shadow" Suharmanto (Foto: Jatu Raya)

“Friend’s Shadow” Suharmanto (Foto: Jatu Raya)

Dalam lukisannya, Suharmanto berkisah bagaimana masyarakat Indonesia dipaksa mengonsumsi ikan-ikan kecil sementara ikan besar diarahkan ke perut negara asing. Negara tahu namun menggadaikan mata, telinga, dan hati.

Independensi dan kerja keras yang jadi salah satu bagian dalam tema pameran tersaji apik dalam karya Joko Gundul, “Perburuan”. Masih menggunakan media batu  di kepala dan badan serta ranting mengiaskan keterbatasan tangan, lautan lepas menandakan medan peperangan, paus-paus siap menenggelamkan para manusia berperahu .

"Perburuan" Joko Gundul (Foto: Azka)

“Perburuan” Joko Gundul (Foto: Azka)

“Dalam perburuan, siapa yang bekerja keras dan terus menerus berusaha di tengah situasi seperti apapun akan menuai hasilnya,” jelas Joko.

Ada pula yang memperlihatkan keterasingan, penderitaan, dan kepedihan yang sehari-hari dipertanyakan. Contohnya M.A.Roziq yang kembali menyajikan perenungan panjang seperti karyanya terdahulu lewat “Di antara Awal dan Akhir”. Foto bongkahan es berbentuk kumpulan tengkorak berlatar warna hitam ini laiknya adagium penganut sufisme mabuk yang mampu menyentuh kedalaman perasaan.

"Di antara awal dan akhir" M.A Roziq (Foto: Jatu Raya)

“Di antara awal dan akhir” M.A Roziq (Foto: Jatu Raya)

“Karya ini menyoal fase ‘kehidupan manusia’. Di manakah sesungguhnya saat ini kita berada. Apakah kita sedang di antara kehidupan setelah kelahiran ataukah keberadaan sebelum kematian?. Dan bukankah setelah kematian pun ada kehidupan? Lalu mengapa kematian begitu menakutkan, toh itu merupakan bagian dari fase kehidupan di alam semesta yang fana ini,” tulisnya.

Pun Bibiana Lee dengan instalasi berupa piring, cangkir, dan mangkuk yang disusun seolah berbentuk pohon. Di tiap perangkat dituliskan nama-nama makanan, dari lokal sampai manca. Ia menceritakan dirinya melalui binokular kebudayaan.

My Favorite Things Bibiana Lee (Foto: Jatu Raya)

My Favorite Things Bibiana Lee (Foto: Jatu Raya)

Makanan tidak didefinisikan karena bumbu atau rasa, namun bagaimana kumpulan bumbu dan makanan itu sendiri adalah kebudayaan yang menyusun identitas Bibiana sendiri.

Tetata dekat dengan karya Bibiana, karya Safrie Efendi membincang pergolakan emosi manusia yang bakal sampai ke tahap sempurna. Di sampingnya, tank bercanon gramofon dai Ismanto Wahyudi mengulik perihal ingatan manusia yang indah di balik deru peperangan sosial. Ada juga permainan simbol dalam “Nature is Independent” seniman asal Jerman, Franziska Fennert yang tak berjarak terlalu jauh dengan kerumitan kupu-kupu Dedy Shofianto berjudul “Evolution”.

Ada kritik mendalam dalam lukisan Wartha Paramartha berjudul “Saya di Bali, Beib” dan Ida Bagus Putu Purwa melalui “Namaku Ni Putu Frida”. Lukisan Wartha mengkritik bagaimana teknologi menghilangkan makna esensial komunikasi dari teks huruf ke emoticon dan stiker dalam ponsel pintar. Visual lukisannya sengaja dibuat kesan retak, pudar, dan terhapus.

"Saya di Bali Beib" Wartha Paramartha (Foto: Jatu Raya)

“Saya di Bali Beib” Wartha Paramartha (Foto: Jatu Raya)

“Karena segala sesuatu yang ada saat ini bersifat fana dan akan tertinggal di belakang menjadi kepingan masa lalu dari peradaban mendatang,” tulisnya.

Sedangkan karya Ida Bagus menyajikan kritik penyemaian identitas palsu yang kini banyak terlihat di media. Seniman besar Frida Kahlo pun mengalami balinisasi di tangan Ida dengan ornamen tari Legong di kepala Frida yang kental dengan kebudayaan Meksiko-nya.

Kenyataan pahit lain yang disajikan dalam Pameran yang digelar mulai 16 Juni-19 Juli 2016 di Sangkring Art Project Jalan Nitiprayan ini adalah soal propaganda yang disebarkan melalui agama dan ideologi mereka-mereka yang bertampang seperti malaikat melalui patung manusia bersayap berkepala toa.

Tiap karya yang berada di ruang pameran tidak hanya sekadar menyajikan realita yang tersemiotika. Karya-karya juga punya nilai estetika tinggi yang meneduhkan. Totalitas karya menunjukkan kebebasan manusia bukan hal yang mustahil meski kita menemukan banyak luka dalam perjalanannya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar