Penyiar radio jadul. (Dokumen Aldi Wirya/Erwin Noviandi)

Para Legenda Atensi Radio Tahun 80-an di Jogja

Melalui request lagu dan kirim salam, radio jadi tempat curhat yang menghadirkan jutaan kenangan.

BERITA JOGJA – Selain buku, teh, dan tugas, Radio merupakan teman akrab mahasiswa Jogja era 1980-an dan 1990-an. Radio memberikan ruang pendengar saling berinteraksi. Melalui request lagu dan kirim salam, radio jadi tempat curhat yang menghadirkan jutaan kenangan. Saat jatuh cinta, patah hati, mengerjakan tigas dosen, radio jadi saksi bisu kegelisahan sampai air mata mahasiswa.

Penyiar radio jadul. (Dokumen Aldi Wirya/Erwin Noviandi)

Penyiar radio jadul. (Dokumen Aldi Wirya/Erwin Noviandi)

Pendengar radio waktu itu akrab dengan kertas atensi. Kertas ini digunakan untuk kirim salam untuk orang-orang spesial dengan identitas yang biasanya lucu-lucu. Dari Kotaro Minami, Pahlawan kesiangan jemput cinta, Edi tong pekong, dan lain-lain.

Sampai sekarang, pengirim atensi yang dianggap melegenda adalah Hari Untarto. “Hari Untarto di Biologi UGM,” pasti tak pernah absen dibacakan penyiar Radio waktu itu. Mereka yang mendengarkan radio di akhir 1980 pasti tak asing dengan nama tersebut. Dari ujung kiri sampai ujung kanan frekuensi , nama Hari Untarto seakan tak pernah putus terdengar.

Dalam sehari, Hari Urtanto setor suara di radio minimal empat kali. Mahasiswa Biologi UGM angkatan 1989 ini biasa mengirim salam dan lagu kepada teman-temanya.

Hari Untarto, secara terang-terangan menampilkan identitasnya acap kali memberikan atensi di Radio. Ia ingin memberi kejutan pada teman-temannya dan mengeksiskan Fakultas Biologi UGM di udara.

“Saya ingin bikin kejutan ke teman-teman saya. Dan saya pikir, anak Biologi akan bangga karena ada yang mewakili di kancah per-radio-an,” kata kata Mas H U, sapaan akrab Hari Urtanto ketika diwawancarai Lindayanti, Surat Kabar Mahasiswa Bulaksumur UGM.

Namanya pun seolah kerap ditunggu para penyiar tahun 1980-an. Kalau tak ada Hari, serasa ada yang kurang. Begitu juga teman-teman Hari yang akhirnya selalu menunggu apa lagi yang dicoretkan Hari di kertas atensinya.

Ada pula Iswahyudie, mahasiswa IKIP angkatan 90. Ia juga tak pernah absen mengirim kertas atensi ke radio. Bahkan penyiar di sebuah radio Jogja waktu itu menggelarinya dengan Mas Rocker karena sering minta lagu rock di atensi. “Wahahaha, dulu selalu titip salam buat geng kolong bendhe, anak kostan di Samirono lama yang sering nongkrong di Bakmi Mundiyo deket Jogjatronik. Hayoo sekarang pada di mana ya anak-anaknya, Iwan, Bagas, Petuk. Kangen saya,” kisahnya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar