Jangan Sudutkan Pelajar Bertato

Pelajar Bertato Biasa Saja

BERITA JOGJA – Dalam realitas kekinian, manusia-dalam komunitas sosial-seolah tak punya hak atas tubuhnya. Penggunaan tubuh diatur oleh konsesus dalam masyarakat dan terukur. Saat nonton bola di stadion, siapa yang mampu bayar mahal akan dimanjakan tubuhnya di kursi empuk yang tak berdesakan lagi bersih. Pun ketika konser di gedung mewah. Siapa yang mampu bayar mahal, […]

BERITA JOGJA – Dalam realitas kekinian, manusia-dalam komunitas sosial-seolah tak punya hak atas tubuhnya. Penggunaan tubuh diatur oleh konsesus dalam masyarakat dan terukur. Saat nonton bola di stadion, siapa yang mampu bayar mahal akan dimanjakan tubuhnya di kursi empuk yang tak berdesakan lagi bersih. Pun ketika konser di gedung mewah. Siapa yang mampu bayar mahal, tak perlu khawatir jadi korban copet.

Tubuh harus teratur. Tiap orang dalam masyarakat harus memerlakukan tubuhnya laiknya status sosialnya. Begitu juga para pelajar. Tubuh haruslah menunjukkan statusnya.  Salah satu contoh konkrit tentang pengaturan tubuh di kalangan pelajar adalah soal Tato . Pelajar dinilai ora elok pakai tato lalu dinilai jauh dari pendidikan karakter namun dekat dengan kejahatan. Siapa yang bertato akan disudutkan.

Saya pernah membaca sebuah berita yang sangat menyudutkan pengguna tato yang berawal dari kasus Hello Kitty. Sungguh disayangkan, si narasumber yang berpredikat sebagai pendidik mengomentari kasus lalu menghakimi pengguna tato dengan nada sumbang.

Saya tidak menyalahkan si pendidik yang banal mengomentari tato di kalangan pelajar. Sebab saya yakin ia besar dalam didikan Orde Baru yang pernah berurusan dengan orang-orang bertato. Medio 1980an, para preman-yang kebanyakan memakai tato-dihabisi oleh pemerintah berdalih keamanan setelah sebelumnya dipelihara oleh para pejabat.

Seperti yang kita tahu Orde Baru adalah rezim yang sangat trauma akan ketidakteraturan. Mereka menciptakan keteraturan melalui pelbagai cara. Dari yang represif di tangan militer hingga yang lembut bertopeng pancasila dan pendidikan. Peristiwa di mana para preman tersebut ditembak dan dimasukkan dalam karung lalu dibuang jadi contoh nyata persenggamaan dua metode ini.

Kekerasan pada para preman bertato yang diawali penculikan menunjukkan represifnya rezim yang ditambah wacana-wacana pendidikan, keamanan, dan keteraturan berdasar pancasila di sekolah-sekolah dan intansi pendidikan lainnya. Metode kedua ini bersifat jangka panjang dan dilakukan terus menerus.

Apalagi para pejabat waktu itu latah mengikuti Sukarno yang memosisikan rakyat sebagai Term of Address atau nggambleh bahwa penembakan ini adalah keinginan rakyat-sekalipun pada era Sukarno banyak juga yang beranggapan bahwa Presiden RI itu bicara atas nama mereka. Padahal rakyat di pemerintahan Orde Baru, meminjam istilah James T Seagel, hanya berupa Term of Refference yang dialamatkan hanya untuk kepentingan negara (baca: pejabat).

Puluhan tahun berlalu pasca persitiwa penembakan para preman yang dilegitimasi melalui pendidikan. Sistem penebalan kuasa ini cukup berhasil. Si pendidik itu misalnya, yang mendapat vaksin buruknya tato di masa Orba membuktikan sistem yang terjaga 32 tahun itu masih ada hingga kekinian.

Pada akhirnya reformasi hanya bualan. Tak ada yang benar-benar berubah di Indonesia, khususnya Jogja dalam memandang fenomena. Pun revolusi mental yang didengung-dengungkan Jokowi. Masih terlalu banyak yang gegar budaya lalu-entah iri, dengki, sebal-dengan gampangnya menghakimi tiap orang yang bertato adalah manusia aneh bin nyeleneh yang dekat dengan kejahatan. Padahal di era kekinian lebih banyak penjahat berdasi daripada bertato.

Saya jadi ingat perbincangan Iwan Fals dengan Andy F Noya. Iwan pernah ditanya mengapa membiarkan almarhum Galang Rambu Anarki, anak pertamanya, menato tubuhnya. Iwan menjawab,”Enggak apa-apa dia menato tubuhnya. Yang penting imannya enggak dia tato,” jawab Iwan.

Jawaban yang sederhana namun menegaskan bagaimana seharusnya kita, saat ini, harus melihat manusia sampai ke dalam hatinya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar