Peluru: Cerita Operasi Kuasa Kota & Ingatan

Oleh Jatu Raya,

Karya Kota & Ingatan adalah paparan relasi antarmanusia dengan kekuasaan dan kekuatan: Brutal.

BERITA JOGJA – Gagasan kekuasaan adalah berkumpulnya ide-ide brutal jadi satu. Gagasan itu membuka jalan menciptakan keteraturan lewat berbagai sistem dan modus operandi. Sejarah mencatat kegilaan Machievelli, terutama dalam proyek monumental Il Principe. Konsep kekuasaan adalah politik tanpa etika. Tiap penguasa-yang berada dalam satu garis struktur- punya hak berkuasa di mana kekuatan memberlakukan hak itu adalah hukum yang terwujud dalam diri tentara.

Kekuatan sama dengan kekuasaan. Etika disamakan unjuk kekuatan. Keamanan adalah bilamana tiap warga negara patuh disertai ketakutan. Oleh karena itu kehidupan politik-dalam arti relasi antarmanusia hanya dapat dimungkinkan dengan kekuasaan dan kekuatan. Brutal.

Operasi kuasa ternyata tak hanya gentayangan lewat simbol-simbol keprajuritan dan senjata negara. Operasi kuasa tak hanya melalui sistem yang destruktif. Kekuasaan juga beroperasi lewat cara-cara terpelajar, kata Foucault: ilmu pengetahuan, etika, moral, adalah produk kuasa yang bisa mematuhkan tiap individu. Ada individu yang kehilangan kemerdekaan, tempat tinggal, bahkan hak sosialnya.

Operasi kuasa lewat dua cara itu jadi perhatian Kota & Ingatan, band asal Jogja lewat trilogi lagu mereka yang sudah mulai dilempar ke laman Soundcloud sejak Juni lalu. Kota & Ingatan ini bukan musisi. Mereka martir yang diperlukan dalam dunia seni Indonesia. Paparan situasi dalam trilogi lagu mereka: kekerasan adalah bagaimana setelah operasi kuasa itu bekerja dan selalu terjadi di tiap negara, wabilkhusus Indonesia yang kian relevan kekinian.

Poster Soundcloud Kota & Ingatan (Foto: Kota & Ingatan)

Poster Soundcloud Kota & Ingatan (Foto: Kota & Ingatan)

Simak karya bertajuk “Alur” yang bercerita bagaimana tiap individu berebut ruang kepatuhan terhadap ilmu pengetahuan lewat cara-cara destruktif. Lalu, “Peluru” yang baru saja rilis 2017 memaparkan kengerian selanjutnya. Band yang diperkuat Aditya Prasanda (pelafal teks), Addi Setyawan (bass), Indradi Yogatama (gitar), Maliq Adam (gitar), dan Alfin Satriani (drum) itu menelanjangi peran kuat negara menekan masyarakat dengan berbagai pembelokan sejarah dan kebohongan.

Dalam “Peluru”, ada kisah upaya pelurusan sejarah yang menahun diburamkan pada setiap korban, dan keluarga dalam tragedi 1965; tumbuh dari Aksi Kamisan yang enggan kenal padam menagih janji rezim atas pengusutan pelanggaran HAM yang tak kunjung tuntas; tumbuh dari masyarakat Papua yang puluhan tahun memperjuangkan tanah dan kemerdekaannya; tumbuh dari setiap petani dan masyarakat yang memperjuangkan lahan hidupnya di seluruh sebaran titik api konflik agraria.

Satu lagu lagi yang jadi bagian trilogi kuasa ini tengah mereka siapkan. Pemaparan realita yang dibungkus dengan musik tepat cukup membuat panas telinga. Dengarkan saja di laman Souncloud mereka di Sini.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar