Pendampingan Macet, Warga Jogja Masih Trauma Gempa

Oleh Jatu Raya,

BERITA JOGJA – Warga Jogjakarta turut merasakan gempa berkekuatan 5,7 SR yang berpusat di Ciamis, Sabtu (25/7) kemarin. Banyak warga yang berhamburan keluar rumah dan mengira pusat gempa ada di Bantul. “Kemarin saya kira Bantul gempa lagi seperti 2006. Waktunya juga hampir sama, pagi-pagi. Ternyata pas lihat TV baru tahu kalau bukan di Bantul,” terang […]

BERITA JOGJA – Warga Jogjakarta turut merasakan gempa berkekuatan 5,7 SR yang berpusat di Ciamis, Sabtu (25/7) kemarin. Banyak warga yang berhamburan keluar rumah dan mengira pusat gempa ada di Bantul.

Gempa

Istimewa

“Kemarin saya kira Bantul gempa lagi seperti 2006. Waktunya juga hampir sama, pagi-pagi. Ternyata pas lihat TV baru tahu kalau bukan di Bantul,” terang Suharyani, warga Sewon, Bantul.

Begitu juga dengan Larasati. Salah seorang korban gempa Bantul 2006 ini dikisahkan suaminya, Nofandi, menangis usai gempa. “Istri saya trauma sama gempa. Kalau ada getaran di jendela karena ada mobil lewat pun langsung gugup,” kisahnya ketika ditemui di Jalan Parangtritis.

Sejumlah kisah ini menurut Rika Vira Z, Psikolog RS Zalecha sekaligus UII menduga bahwa pendampingan mengatasi trauma korban Gempa 2006 di Bantul belum selesai. Padahal, pemulihan psikis harus terus dilakukan oleh pemerintah.

“Bukan hanya pemulihan fisik bangunan. Memori kolektif sebagian warga masih mengarah ke Bantul ketika merasakan gempa. Mbak Laras itu contohnya yang masih sangat takut. Pemerintah harus bergegas melanjutkan pendampingan pemulihan,” saran Yaya, sapaan akrabnya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar