Sultab HB IX

Perbincangan Terakhir Sri Sultan HB IX dengan HB VIII

Oleh Jatu Raya,

BERITA JOGJA – Lahir 12 April 1912, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX tak dibesarkan dalam dinding Kraton. Sejak usia tiga tahun, Dorodjatun, panggilan akrabnya dibesarkan di rumah orang Belanda kecuali Sabtu malam di mana ia harus kembali ke Kraton. Disekolahkan di ELS Jogja, HBS Semarang, Bandung, HBS Harleem hingga mengambil mata kuliah Indologi di […]

BERITA JOGJA – Lahir 12 April 1912, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX tak dibesarkan dalam dinding Kraton. Sejak usia tiga tahun, Dorodjatun, panggilan akrabnya dibesarkan di rumah orang Belanda kecuali Sabtu malam di mana ia harus kembali ke Kraton.

Sultab HB IX

Istimewa

Disekolahkan di ELS Jogja, HBS Semarang, Bandung, HBS Harleem hingga mengambil mata kuliah Indologi di Universitas Leiden, Sri Sultan tak pernah berprilaku kebarat-baratan. Meski dibesarkan di tengah orang barat, ia tetap orang Jawa. Begitu kata Sultan.

Saat Sultan VIII sudah sepuh, Kraton belum juga dapat kepastian apakah HB IX akan menggantikannya. Namun perang di Eropa kala itu menjadi awal mula kepemimpinan HB IX menggantikan ayahnya. Cerita ini bermula ketika Sultan HB VIII menjemput sendiri kepulangan anaknya dari Leiden yang disuruhnya belajar kebudayaan dan orang Belanda itu ke Batavia.

Julius Poor, wartawan senior yang sempat mewawancarai Sultan HB IX beruntung pernah mendengar kisah itu. Saat menuju Jogja dengan kereta, selama tiga hari tiga malam,keduanya saling tanya kabar dan berbincang mesra. Namun, di hari terakhir kesehatan Sultan HB VIII memburuk.

Seakan tahu maut di depan mata, HB VIII lalu ingin ganti baju kebesarannya di kereta. Usai berpakaian lengkap, HB VIII kemudian mengeluarkan keris Kyai Kopek dan diserahkannya pada HB VIII. “Djatun, iki pusakamu (Djatun, ini pusakamu),” kata HB VIII yang lalu diterima Sri Sultan sebagaimana diceritakan PJ. Suwarno dalam Hamengku Buwono IX dan Sistem Birokrasi Pemerintahan Yogyakarta 1942-1974.

HB IX paham betul bahwa keris itu tanda bahwa kekuasaan Kraton telah berpindah padanya. Lalu dengan khidmat ia mendegarkan ayahnya menasihatinya tentang pokok-pokok ajaran tentang Raja. Sampai di Jogja, HB VIII langsung menghembuskan nafas terakhirnya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar