Perempuan Enggak Boleh Disunat

BERITA JOGJA – UNICEF pada 2013 melaporkan sekitar 3 juta anak perempuan yang mengalami praktik sunat setiap tahunnya. Sunat perempuan, masih dari laporan UNICEF memiliki dampak yang membahayakan. Mulai dari pendarahan, infeksi luka, kematian hingga beban psikologis seperti trauma yang bahkan berlangsung seumur hidup. Adanya laporan ini ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 6 Tahun […]

BERITA JOGJA – UNICEF pada 2013 melaporkan sekitar 3 juta anak perempuan yang mengalami praktik sunat setiap tahunnya. Sunat perempuan, masih dari laporan UNICEF memiliki dampak yang membahayakan. Mulai dari pendarahan, infeksi luka, kematian hingga beban psikologis seperti trauma yang bahkan berlangsung seumur hidup.

Perempuan enggak boleh disunat

Istimewa

Adanya laporan ini ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 6 Tahun 2014 yang menetapkan Female Genital Mutilation (FGM) atau sunat perempuan bukanlah tindakan kedokteran karena praktiknya tidak berdasarkan indikasi medis dan belum terbukti manfaatnya bagi kesehatan.

Pakar Gender sekaligus Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM, Basilica Dyah Putranti mengatakan sunat perempuan juga dinilai bias gender yang bermula dari sunat laki-laki yang dalam pengetahuan medis merupakan operasi minor dan dipercaya bermanfaat bagi kesehatan.

“Sunat perempuan seperti terbawa. Proses medikalisasi dalam praktik sunat laki-laki dianggap berpengaruh positif. Alasan medisnya cukup kuat, yaitu untuk kebersihan dan mencegah penyakit kelamin. Tidak demikian halnya dalam kasus sunat perempuan. Namun, karena dikaitkan dengan tradisi dan agama, sunat perempuan seolah-olah juga penting untuk dilakukan,” jelas Basilica

Peran dari tenaga medis dipandang penting dalam upaya menghentikan praktik sunat perempuan. Sebagai garis terdepan dalam memberikan layanan kesehatan, tenaga medis juga diharapkan bisa turut mensosialisasikan tentang bahaya komplikasi kesehatan akibat praktik sunat atau perlukaan pada area sensitif perempuan tersebut.

“Saya menduga, ada kemungkinan angka sunat perempuan cukup tinggi mengingat adanya fundamentalisme agama yang menguat beberapa tahun terakhir ini. Praktiknya tidak lagi tradisional melainkan dilakukan oleh tenaga medis. Maka, sekali lagi penting untuk melibatkan tenaga medis untuk turut serta dalam upaya menghentikan praktik sunat perempuan,” tutupnya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar