Menikmati lukisan Dipo Andy di Art Jog (Foto: Dokumen Dipo)

Peristiwa Penting Seni Rupa Jogja 1970an

Oleh azkamaula,

Banyak kegegeran terjadi akibat rentetan peristiwa seni rupa Jogja di era awal Orde Baru.

BERITA JOGJA – Sejumlah peristiwa penting seni rupa Jogja yang terjadi usai kemerdekaan dan di era Orde Lama (Baca: Peristiwa Penting Seni Rupa Jogja 1940-1960-an) memengaruhi pergerakkan seniman Jogja di era 1970-an atau saat Orde Baru (Orba) berkuasa. Banyak gerakkan dan dobrakan baru yang dilakukan para seniman Jogja yang memengaruhi perkembangan seni rupa.

Berikut sejumlah peristiwa penting yang diarsipkan Rakal Badrika dalam Membaca Arsip, Membongkar Serpihan Friksi, Ideologi Kontestasi: Seni Rupa Jogja 1990-2010.

Udin

Seorang pengunjung tengah melihat lukisan yang dipajang di “Tribute to Udin” di LIP, Kamis (27/8) malam. (Foto: Azka)

1970

Gregorius Sidharta Soegija mendobrak pakem seni patung dengan mengolasekan beberapa bahan unik ke patung dalam karya “Tangisan Dewi Bethari”. Ia mencat lalu melukis patung dan mengolasekan rambut, kaca, cincin, dan sebagainya. Padahal tahun itu perbincangan patung masih dalam tahap konservatif: tak boleh dimanipulasi dengan aspek dua dimensi. Patung harus dibiarkan sebagaimana bahan aslinya.

Soegija merupakan seniman yang aktif di sanggar Pelukis Rakyat (PR) Hendra Gunawan. Dari Hendra dan Trubus dia belajar melukis . Ketika ASRI didirikan tahun 1950 ia termasuk mahasiswa angkatan pertama bersama Widayat, Fadjar Sidik, Abas Alibasjah, dan Edhi Sunarso.

1974

Tahun 1974, Pulau Jawa geger karena empat maklumat yang ditandatangai dan dirancang mahasiswa ASRI Jogja, ITB Bandung, dan LPKJ. Maklumat yang dikenal melahirkan peristiwa Desember Hitam ini adalah respon atas Dewan Juri Pameran Besar Seni Lukis Indonesia pada Desember 1974 yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta pada 26 Desember. DKJ pada saat itu mengumumkan kemenangan lukisan yang dianggap berketerampilan tinggi, penghayatan penuh, dan bukan usaha main–main yang asal baru dan nyeleneh.

Harapan yang diangkat dari maklumat ini adalah diberinya ruang bagi munculnya kreativitas–kreativitas baru, eksperimen atau justru mencari bentuk estetika yang baru. Karena maklumat ini 4 mahasiswa ASRI Yogyakarta di skors dalam waktu yang tidak terbatas. Isi pernyataan Desember Hitam adalah sebagai berikut

1.Bahwa kepancaragaman seni lukis Indonesia merupakan kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, akan tetapi kepancaragaman itu tidak dengan sendirinya menunjukan perkembangan yang baik.

2.Bahwa untuk perkembangan yang menjamin kebudayaan kita, para pelukis terpanggil untuk memberikan arahan rohani yang berpangkal pada nilai – nilai kemanusiaan dan berorientasi pada kenyataan sosial, budaya, politik, dan ekonomi.

3.Bahwa kreativitas adalah kodrat pelukis, yang menempuh berbagai cara untuk mencapai perspektif–perspektif baru bagi seni lukis Indonesia.

4.Bahwa dengan demikian maka identitas seni lukis Indonesia dengan sendirinya jelas eksistensinya.

5.Bahwa yang menghambat perkembangan seni lukis Indonesia selama ini adalah konsep–konsep usang, yang masih banyak dianut oleh establishment, pengusaha seni budaya dan seniman–seniman yang sudah mapan. Demi keselamatan seni lukis kita, maka kini sudah saatnya kita memberi kehormatan establishment tersebut, yaitu kehormatan purnawirawan budaya.

1975

Para mahasiswa yang di-skors pihak kampus banyak mendapat dukungan. Bersama mahasiswa ITB, anak-anak ANRI kemudian  membentuk “Gerakan Seni Rupa Baru”, dengan pameran pertama kali di TIM, Jakarta 1975. Gerakan ini bubar pada tahun 1979.

1977

Gerakkan Kepribadian Apa (PIPA) bersama Gempa Seni Rupa Yogya menggelar Pameran PIPA yang berisi protes terhadap kemapanan karya. Para seniman yang ikut ambil bagian dalam pameran ini bosan dengan bentuk karya yang sudah siap.

Ada sekitar 400 orang yang hadir di pameran pertama ini. Pada 1979 pameran kedua PIPA digelar di Senisono. Pameran yang rencananya berlangsung selama lima hari ini ditutup aparat keamanan pada hari kedua.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar