Replika tugu mini di Monumen Tugu Pal Putih (Foto: Azka Maula)

Pilkada Kota Jogja: Mau Dimakan Buaya di Sungai Code atau Ongkang-Ongkang?

Oleh Jatu Raya,

Semoga saja Walikota Besok enggak make filosofi Asal Bapak Senang atau Asal Pengusaha Ongkang-ongkang

Replika tugu mini di Monumen Tugu Pal Putih (Foto: Azka Maula)

Replika tugu mini di Monumen Tugu Pal Putih (Foto: Azka Maula)

BERITA JOGJA – Sosok seperti Idi Amin Dada Oumee sudah tentu tak cocok jadi Wali Kota Jogja. Alih-alih memulihkan toleransi yang yang hampir memosil, malah intoleran pula yang jadi pemandangan sehari-hari.

Kalau sosok macam Idi Amin yang jadi Wali Kota Jogja, bisa-bisa pendatang dikasih waktu 90 hari buat angkat kaki dari berdalih ruang kota yang makin sempit. Bisa juga dia tiba-tiba menculik mereka yang cerewet kritik sana protes ini ke Sungai Code yang sebelumnya diisi Buaya ganas.

Jangan sampai deh sosok seperti Idi Amin yang jadi Wali Kota.

Sosok macam Arnoldo Aleman juga enggak pantas jadi Walikota Jogja. Bisa-bisa semua jengkal tanah di Jogja didol. Ada yang mau bangun ini itu ngegusur perumahan warga, doi asoy geboy aja. Dana-dana buat kesejahteraan orang banyak atau proyek pemerintah bisa-bisa masuk lorong gelap. Asal ada duit semua lancar deh.

Berarti jangan sampai juga (deh) sosok macam Presiden Nikaragua tahun 1997 ini jadi Walikota Jogja.

Mencari pemimpin yang baik rada utopis sih sekarang. Asli utopis kalau mau pemimpin macam Fernando Lugo, Mark Rutte, atau Jose Mujica. Mau seperti Sri Sultan Hamengku Buwono (IX) juga makin jauh. Beliau enggak bisa tergantikan deh meski ada banyak politikus yang membajak fotonya di banner kampanye.

Dok Ong

Dok Ong

Seperti meme Ong Hari Wahyu, bahwa yang dibutuhkan itu pemimpin, bukan penguasa dan Jogja itu subur jangan diinjak-injak sak enak udelmu dewe, tugas warga di Pemilihan Walikota besok itu berat banget. Apalagi mencari pemimpin. Mencari penguasa aja kadang salah pilih.

Paling berat buat warga besok itu jelas memilih sesuai hati nurani. Memilih karena ingin memilih, bukan karena amplopan meski berat betul menolak uang yang diberikan apalagi buat yang lagi butuh banget. Memilih karena berani, bukan karena takut karena adanya ancaman laskar atau adanya penakutan api neraka. Atau bisa juga golput tanpa disonansi sosial. Banyak teman golput, daripada milih terus saling enggak enakan terus Golput juga.

Rada susah menjawab pertanyaan siapa yang pantas memimpin Jogja alias Walikota. Yang bisa dilakuin cuma berharap calon Walikota besok enggak ada niatan buat mempertebal intoleransi atau niat ngelemparin tukang kritik ke sungai code biar dimakan buaya. Sama berharap semoga saja Walikota Besok enggak make filosofi Asal Bapak Senang atau Asal Pengusaha Ongkang-ongkang.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar