Q & A Korekayu Band: The Power of Tulus

Korekayu membeberkan efek The Power of Tulus ketika membuat karya

BERITA JOGJA – Korekayu, band yang dipertemukan di UKM Musik Kampus Sanata Dharma Jogjakarta sukses besar membius pendengar musik dengan karya mereka di “Retrorika Metropolitan” yang rilis Februari 2016. Lagu dalam mini album yang dijual terbatas ini berisi lima lagu bernuansa lawas yang cukup berkualitas. Lirik mendalam yang diantar aransemen meneduhkan tak pernah membosankan didengar berulang.

Alfonsus Kriswandaru (vokal, guitalele, gitar), Bagas Raharjo Ranggen (bass), Bondan Jiwandana (gitar), Yustinus Tresnantyo, dan Paulus Alvin (Drum) punya banyak cerita di balik album mini yang dirilis tiga tahun itu. Para pribadi yang cukup gila itu bercerita panjang lebar soal band, pilihan genre pop oldies mereka, dan persiapan membuat album baru yang tak kalah menyenangkan tahun depan pada Beritajogja.id

Pasukan Korekayu usai manggung di Selamat Pagi Vol12 YKH (Foto: Azka)

Pasukan Korekayu usai manggung di Selamat Pagi Vol12 YKH (Foto: Azka)

Di web kalian, disebut kalau Korekayu adalah proyek kalian berlima. Nasibnya gimana dong kalau disebut proyek?

Alfonsus: Iya benar, Korekayu adalah hasil seru-seruan kami berlima yang ditemukan di UKM musik kampus. Terus kami sering nongkrong juga di bawah tangga kantin Sanata Dharma. Dari sanalah proyek ini dimulai, di mana kami sebelumnya juga punya proyek musik sendiri-sendiri. Pas main bareng, eh ternyata cocok juga satu sama lain.

Bondan: Awalnya memang proyek sih, tapi pas peluncuran album sampai sekarang ternyata banyak yang suka sama musiknya Korekayu. Jadi kami akan serius di proyek ini karena tanggung jawab kami pada pendengar. Hehehe

Kalian juga terang-terangan bilang kalau musik Korekayu banyak dipengaruhi oleh musik Naif Band dan The Beatles. Nuansa musik mereka memang sangat kentara. Enggak takut kalau nanti ada yang nyinyir ‘ah Beatles banget ‘ atau ‘Naif banget’?

Bondan: Kami itu pengen sebenarnya bikin musik yang Beatles banget atau Naif banget. Pernah nyoba bikin yang kayak lagu Beatles yuk gitu, eh tapi enggak pernah bisa, malah gagal mulu. Aneh kan, hahahaha..

Alfonsus:Kami memang suka banget sama dua band itu. Tapi musik yang kami mainin di Korekayu itu pas jadi udah begini. Pas kali pertama main bareng, spontan, lah udah begini ini jadinya enggak dibikin-bikin. Padahal kami dari latar belakang musik yang beda-beda dulunya.

Bagas: Terus pas kami mainin musik Korekayu langsung banyak yang bilang ‘wah pop oldies nih’ kami dengar itu terus yaudah kami tuliskan juga kalau kami main Pop Oldies.

Pendalaman musik dan lirik seperti apa sih yang kalian lakukan ketika ijab bawain Pop Oldies? Kan susah tuh, enggak banyak yang bisa bikin lirik seperti tahun 60-70an seperti kalian.

Bondan: Kalau ngulik itu hal wajib yang kudu dilakukan. Pasti ada ngulik soal sound, line, atau liriknya. Kami enggak pernah berhenti belajar dan lain-lainnya. Tinggal ngulik sih sebenarnya soal pop lama itu bagaimana lalu langsung ke studio. Sama perbanyak diskusi aja.

Ada satu lagu di mini album, “Sari”, yang liriknya memang serasa lawan banget. Itu lagu menakjubkan dan nuansanya seperti “Natalie” Crisye di album Metropolitan¬† atau “Lenny” di album “Resesi”. Bisa diceritakan enggak ide dan proses bikin lagu itu gimana?
Paulus: Kayaknya kami harus buka rahasia nih…hahahaha

Alfonsus: Jujur ya, itu lagu kami buat setelah liat kelakuan dua teman kami di kantin. Teman kami si A suka sama teman kami juga, namanya Sari. Dia ke kantin terus ngeliatin si Sari, tapi ya cuma berani ngeliatin doang, enggak berani deketin sama sekali. Dari sana terus kami bikin lagu ini untuk teman kami ini. Bikinnya juga enggak serius-serius amat, karena sebenarnya ini lagu ejekan. Serius, ini lagu ejekan kami buat teman kami itu Hahahaha…

Lagu ejekan kok bisa sedahysat ini efeknya? Lirik Aku memetik setangkai lagu yang mekar berpijar di kabutmu/Melantunkan nada bisu memerah dan malu/Mati dan layu nonjok banget malah sudah ada yang bikin video parodinya. Jadi itu benar ditujukan untuk teman?

Bondan: Iya beneran, itu sebenarnya lagu ejekan kami. Kenapa efeknya dahsyat mungkin inilah maksud The Power of Tulus kali ya, soalnya lagu yang kami bikin jujur enggak dibuat-buat sih, entah dapat dari pengalaman dan lain sebagainya. Nah yang bikin video parodi emang salah satu teman kami juga, si Lukas hahaha.. (menunjuk Lukas yang lalu ketawa-ketawa).

Bajilak, gimmick banget jadinya ini lagu hahaha. Apakah The Power of Tulus juga bakal jadi rumus bikin album selanjutnya? Kapan tepatnya?
Bondan: Pastilah rumusnya masih tulus. Soal materi sedang kami siapin sekarang ini, orang bisa mengira akan tambah ringan juga bisa tambah berat. Tapi inilah kami, band yang lahir dari persahabatan dan The Power of Tulus.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar