Q&A: Sri Hadi Waluyo, Luthier Legend dari Jogja

Oleh Jatu Raya,

"Bajigur enak tenan Pak gitare," puji seorang anak muda berusia 20-an usai mencoba gitar buatan Sri Hadi Waluyo.

BERITA JOGJA – Sosok kerempeng, setengah gondrong, dan murah senyum itu sedang duduk santai di sofa stand saat acara pameran kerajinan musik Jogja berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) Minggu (28/2) sore kemarin. Sesekali ia melirik anak-anak muda yang sedang mencoba gitar buatannya. Ia tersenyum ketika mereka misuh menyatakan rasa kekagamuman.

“Bajigur enak tenan Pak gitare,” puji seorang anak muda berusia 20-an usai memainkan Gravity John Mayer. Hadi pun menanggapinya dengan tawa.

Sri Hadi Waluyo, Luthier gitar asal Jogja (Foto: Azka Maula)

Sri Hadi Waluyo, Luthier gitar asal Jogja (Foto: Azka Maula)

Bagi legenda luthier alias perajin alat musik Jogja berusia 58 tahun itu, pujian macam itu sudah jadi hal yang kerap ditemuinya. Sejak menjadi luthier dengan brand Zianturi pada 1993, ia sudah banjir pujian. Saat ini pun Hadi dengan Zianturi-nya sudah dianggap Dewa pembuat gitar di Indonesia. Sekitar 10 ribu gitar segala jenis sudah sudah ia bikin di Payingan, Maguwoharjo, bengkel sucinya.

Di tengah pameran, Beritajogja.id sempat berbincang dengan penyuka Blues dan Jazz ini. Tak ada tanda kelelahan di wajahnya meski sudah jaga stand sejak pagi. “Kita awali sama membakar rokok dulu,” katanya memulai perbincangan.

Sudah sejak tahun 1993 Om bikin gitar. Masih ingat enggak gitar apa yang paling pertama dibuat dan untuk siapa?
Agak sulit kalau menjawab gitar pertama. Saya sudah lupa. Soalnya sejak kecil saya sudah suka utak-atik. Tapi gitar yang paling berharga yang saya buat untuk diri saya sendiri. Saya bikin gitar elektrik yang khusus buat saya saja, hahaha.. Ada tuh di rumah, selalu ada yang nawar gitar itu, tapi saya enggak pernah mau melepas. Bersejarah soalnya.

Misalnya ada yang mau beli Rp1 Miliar, mau lepas enggak Om?
Enggak mungkin lah, itu gitar kesayangan Hehehe..

Dari 1993 banyak musisi yang datang ke Zianturi. Salah satunya Eross Sheila On7. Kabarnya juga ada banyak musisi luar daerah yang pesan. Pernah ada klien yang bikin kaget enggak Om?
Saya ini punya kebiasaan unik enggak pernah nanya nama orang. Habis kenalan, ngobrol-ngobrol soal gitar yang bagaimana. Jadi kalau siapa, hahaha saya lupa nama-namanya. Tapi ada yang paling gila itu tahun berapa lupa, ada gitaris Jakarta jam 7 nelpon katanya dari Jakarta mau ke rumah. Eh jam sembilan dia sudah di depan pintu. Saya lupa juga nih siapa namanya..

Kalau yang paling bawel? Ada enggak?
Enggak ada sih karena ya paling saya bikin sesuai permintaan saja. Tapi harus memuaskan dan gitar itu mau dipakai sampai kapanpun tidak boleh sakit.

Gitar sakit itu gimana Om?
Ya bocor, noise, atau tidak awet. Saya kasih garansi seumur hidup untuk gitar-gitar saya. Itu sudah dari dulu. Kalau ada yang sakit, langsung bawa ke bengkel, saya sempurnakan lagi dan setelah itu pasti tidak mengecewakan.

Jadi sejak gitar itu jadi, om sudah punya beban tanggungan yang berat ya?
Bukan sejak gitar itu jadi. Tapi sejak saya memilih kayu untuk dijadikan badan gitar. Soalnya dari kayu langsung akan ketahuan gitar yang bagus itu seperti apa.

Gitar buatan Zianturi (Dok Zianturi)

Gitar buatan Zianturi (Dok Zianturi)

Oh ya, ngomong-ngomong soal kayu, gitar ini paling bagus dibuat dengan kayu pegas atau kayu lentur sih?
Kalau gitar yang baik biasanya dibuat dengan kayu yang sifatnya pegas. Artinya ketika dibengkokkan dia patah. Ini punya penghantar yang baik untuk resonansi. Tapi, kalau kayu lentur bukan penghalang resonansi yang baik. Itu saja bedanya.

Kayu Jati?
Untuk kayu jati, dia kayu pegas dan kuat tapi terlalu banyak mengandung minyak. Ketika dibuka sampai minyaknya habis, serat kayunya lemah Jadi jati enggak cocok dijadikan gitar. Yang cocok seperti Rosewood, Eboni, Mahogani, Maple, Ash, Eboni, atau Alder.

Seolah-olah kayu itu hidup begitu ya Om? Apalagi yang kira-kira harus diketahui soal kayu ini kalau mau belajar jadi luthier?
Kayu itu memang hidup. Mereka punya anatomi yang beda-beda. Buat perajin gitar muda harus paham betul sama anatomi kayu, terus pori-pori dan lainnya karena akan pengaruh di penghantar bunyinya.

Karakter gitar mempengaruhi genre musik yang dimainkan. Apa itu ada hubungannya dengan kayu yang digunakan sebagai bahan gitar?
Betul. Contohnya Jazz klasik. Yang dibutuhkan di Jazz klasik itu gitar dengan sound akustik misalnya. Nah untuk menghasilkan sound atau gitar akustik yang baik, dibutuhkan kayu yang kuat dengan pori-pori banyak. Sehingga akan menimbulkan suara reverb yang dibutuhkan untuk Jazz akustik. Misalnya mahogani.

Lantas apakah bagusnya permainan seseorang tergantung dari gitar yang digunakan atau dari proses latihan gitaris itu sendiri?
Dari kacamata saya itu separuh benar separuh enggak. Kenyamanan gitar yang dimiliki seseorang menentukan perkembangannya. Ada yang belajar dengan gitar sembarangan, yang tidak nyaman, akibatnya ya kadang tidak setem sendiri karena tidak kuatnya kayu atau hal-hal lainnya. Jadi gitar sangat pengaruh sekali. Gitar yang baik akan memacu musisi belajar lebih giat lagi.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar