Rhyme In Peace: Dentuman Doa Khusyuk untuk Fandi Mala

Oleh Jatu Raya,

Melihat sosok-sosok death metal itu memainkan peran yang setara dan tampak semringah menjalaninya adalah pemandangan yang lebih dari cukup.

BERITA JOGJA – Sabtu (23/7) malam di Arcaf Cafe, Babarsari, hidup berlangsung khusyuk. Energi ada di puncak, lalu teriak-teriak, siap moshing, siap mosh pit. Settingan ruang cafe secara sederhana dengan temaram lampu dan panggung sederhana yang meninggalkan batas ke penonton ditambah ribuan megawatt sound yang memekikkan telingan penanda bagaimana seharusnya konser Death Metal digelar: Liar!

Aksi Whiplash dalam konser Rhyme In Peace (Foto: Prassetya)

Aksi Whiplash dalam konser Rhyme In Peace (Foto: Jatu Raya)

Rhyme In Peace, yang digelar oleh para seniman metal Jogja dalam Jogjakarta Corpse Grinder (JCG) malam kemarin didedikasikan untuk sahabat mereka, Alfandi Bertan Mala yang meninggal setelah dianiaya orang tak dikenal beberapa waktu lalu. Deretan band Metal yang tampil dalam konser melantunkan doa dan harapan lewat berisiknya sound gitar dan hentakkan drum yang penuh energi: Bertan, tenanglah di alam sana dan nikmatilah gemuruh konser di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

“Konser ini kami dedikasikan untuk saudara Fandi Mala. Almarhum adalah bagian dari JCG. Harga tiketnya Rp 15 ribu dan total penjualan akan kami serahkan ke keluarga almarhum,” tegas Tambun, perwakilan JCG sebelum konser.

Bagi anak muda pecinta metal yang hidup di era 90-an, pasti tahu betul sepak terjang JCG yang membesar pada 1994 ini. JCG adalan inkubator metal terbesar di Jogja dan Jawa Tengah yang melahirkan band-band besar dengan musik berisik yang membangkitkan emosi. Sebut saja Death Vomith, Whisplash, Venomed, dan banyak lagi yang lainnya. Masing-masing band yang ditelurkan JCG punya karakter hebat dan berbeda satu sama lain. Inkubator itu juga jadi rumah bagi orang-orang di dalam band maupun di luar band dengan cekakak yang membuat iri.

Tidak berlebihan ketika JCG mendedikasikan konser Rhyme In Peace itu pada Fandi Mala, yang menahun jadi bagian mereka.

Venomed Band (Foto: Jatu Raya)

Venomed Band (Foto: Jatu Raya)

Berturut-turut, band yang tampil sukses meliarkan penonton di depan panggung. Whisplash dengan notasi-notasi gitar yang rumit, beratnya sound Warhammer, kecepatan musik Venomous, Killed On Juarez, dan Venomed masing-masing menghadirkan sensasi tersendiri. Para penonton yang sudah berumur tak mau ketinggalan dengan anak muda yang makin menggila di depan panggung. Seperti ada rindu yang menyeruak, mereka bergabung lalu mereka menari di tengah panas kolektif di depan panggung.

Death Vomit yang jadi penutup konser tampil gagah. Sofian Hadi memainkan gitarnya dengan brilian. Vokalnya tak renta meski ia harus mengurusi notasi rumit dari gitar yang dibopongnya. Iki Hariwibowo menyambut dengan kecepatan tangannya meraih not-not lebar di atas panggung. Sementara itu Roy Agus, dedengkot band, seperti biasanya tak banyak bicara di atas panggung. Tanpa basa-basi ia mengirimkan doa pada Bertan dengan gebukkan drumnya yang luar biasa.

Berada dalam peristiwa malam kemarin sungguh menyenangkan. Melihat sosok-sosok death metal itu memainkan peran yang setara dan tampak semringah menjalaninya adalah pemandangan yang lebih dari cukup. Fandi Mala di alam sana pun mungkin akan berpikir serupa. Performa apik yang ditampilkan para sosok itu hanya bonus dibanding kebersamaan mereka yang hadir di malam itu.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar