Santai Bung,Haram Tidaknya Mengucap Selamat Imlek Tergantung Niat

Oleh azkamaula,

Pandangan pribadi penulis terhadap banyaknya artikel yang mengharamkan mengucapkan Imlek bagi mereka yang merayakan.

BERITA JOGJA – Pramoedya Ananta Toer bilang bahwa hidup itu sederhana tapi tafisrannya yang hebat-hebat. Saya percaya itu. Tafsiran yang serba hebat itu pula yang menentukan hidup seseorang. Respon peristiwa dalam pribadi orang ditentukan dari sejauh mana ia menafsirkan yang kemudian melahirkan cara pandang.

Kampung Ketandan dipercantik dengan arsitektur tionghoa

Liong yang kerap muncul di perayaan IMLEK, termasuk di Kampung Ketandan (Foto: Jatu Raya)

Dalam konteks agama misal. Kitab adalah salah satu pedoman hidup dan cara pandang seseorang. Manfsirkan apa yang ada di dalamnya menentukan benar bagaimana cara pandang seseorang soal peristiwa atau fenomena yang dilihat atau dialami. Cara pandang itu ada yang disimpan sendiri, ada juga yang telanjang dipublikasikan dengan sedikit paksaan yang tereufemis jadi imbauan.

Seperti yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Muncul cap haram bagi mereka yang turut mengucapkan selamat pada orang-orang yang tengah merayakan hari raya keagamaan di luar islam. Pun sekadar mengucapkan selamat di dinding Facebook. Pandangan itu tambah garang dengan sematan kafir bagi mereka yang merayakan.

Setelah natal, pandangan garang itu datang lagi saat perayaan Imlek. Pokoknya jangan sampai kalian yang muslim ikut-ikutan merayakan Imlek, soalnya itu punya mereka yang kafir. Kira-kira begitu inti artikel yang saat ini sudah mulai menyebar di media sosial ini.

Cara pandang itu kemudian bergesekan dengan cara pandang lain yang didapatkan juga dari penafsiran. Enggak apa-apa jika sekadar memberikan selamat atau ikut merayakan dengan bertamu ke rumah mereka yang merayakan. Niatnya adalah silaturahmi dan memesrakan hubungan antarmanusia yang berbeda latar agama dan sosial. Kalau kata Emha Ainun Najib, masuk ke kandang ayam manusia enggak perlu jadi ayam. Ikut merayakan bukan berarti langsung pindah keyakinan atau kepercayaan.

Pandangan pribadi saya lebih condong ke yang kedua. Saya enggak peduli dengan adanya artikel yang berisi dalil atau (maaf) dalih pengharaman. Atas segala niat baik, Tuhan pasti bertanggung jawab. Pun dengan orang-orang yang berniat baik menambah mesra silaturahmi dengan turut mengucapkan selamat Imlek, selamat Natal, Selamat Nyepi, Selamat Waisak, atau yang lainnya.

Barangkali alasan kemanusiaan itu pula yang membuat Gus Dur mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 saat menjabat Presiden ke-4 Indonesia. Diterbitkannya Keppres Nomor 19 Tahun 2001 oleh Gus Dur membuat warga Tionghoa mendapat kemerdekaan untuk merayakan tradisi dan kepercayaan mereka di Indonesia, termasuk Imlek.

Saya tidak berusaha untuk memaksakan pandangan pribadi saya lalu berkelahi dengan pandangan lain yang galak itu. Bagi mereka yang percaya bahwa tidak apa-apa mengucap selamat hari besar agama lain, semoga Tuhan membalas niat baik itu. Selamat Imlek bagi yang merayakan.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar