Sebab Pers Mahasiswa Rawan Bredel

Oleh Jatu Raya,

Pers Mahasiswa harus bersatu melawan monopoli kuasa pembuat kebijakan kampus.

Ilustrasi Pers (Dok Riaubook)

Ilustrasi Pers (Dok Riaubook)

BERITA JOGJA – Intoleransi di Jogja yang makin memprihatinkan selama lima tahun terakhir berimbas ke dunia kampus. Banyaknya tindakan represif Ormas-ditambah pihak yang seharusnya memberi rasa aman- ke mereka yang tengah menyuarakan kebebasan berpendapat dalam diskusi, event, atau kegiataan keagamaan diikuti pembuat kebijakan di sejumlah kampus dalam merespon kegiatan mahasiswa.

Contohnya mengancam pembekuan atau membredel Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang kerap mengkritik kebijakan kampus melalui produk-produknya. Tidak terima dengan pemberitaan direspon secara represif. Di sisi lain, Persma yang sejatinya juga sebagai gerakkan mahasiswa melemah dan dimanfaatkan dengan baik oleh pihak kampus.

“Melemahnya fungsi Persma sebagai gerakkan mahasiswa membuat nyaman pembuat kebijakan menekan mahasiswa yang bergabung di dalamnya. Mereka (pembuat kebijakan) terkontaminasi monopoli kekuasaan melalui tindakan represif yang dilakukan banyak pihak ke masyarakat lalu menggunakan cara serupa ke internal kampus,” jelas Halili Hasan, pengamat sosial sekaligus politik Setara Institute.

Situasi ini sudah sangat membahayakan. Kampus tak lagi sadar akan kewajiban memberi ruang dan memfasilitasi demokrasi pada para mahasiswanya. Demokrasi diatur surat sakti pembuat kebijakan. Kalau tak mau merugi, patuh saja lalu habis perkara.

“Salah tempat kalau menggunakan ancaman atau pembredelan pada kegiatan mahasiswa. Apalagi persoalan seperti pemberitaan yang harusnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan mencerminkan sifat pendidik. Kampus kan tugasnya juga mengajarkan demokrasi dan keterbukaan, bukan tempat ancam mengancam atau penindasan pada mahasiswa,” tegasnya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar