Sejarah Kampung Ketandan - Berita Jogja

Sejarah Kampung Ketandan di Jogjakarta

Oleh Jatu Raya,

BERITA JOGJA – Kampung Ketandan yang berada di kawasan Jalan Malioboro merupakan kawasan pecinan atau China Town. Ketandan berasal dari kata tondo atau tanda. Sekitar 200 tahun yang lalu ruang gerak etnis Tionghoa dibatasi oleh pemerintah kolonial melalui peraturan pembatasan pergerakan (passentelsel) dan wilayah tinggal Tionghoa (wijkertelsel). Namun, etnis Tionghoa kala itu mendapat restu Sultan […]

BERITA JOGJA – Kampung Ketandan yang berada di kawasan Jalan Malioboro merupakan kawasan pecinan atau China Town. Ketandan berasal dari kata tondo atau tanda. Sekitar 200 tahun yang lalu ruang gerak etnis Tionghoa dibatasi oleh pemerintah kolonial melalui peraturan pembatasan pergerakan (passentelsel) dan wilayah tinggal Tionghoa (wijkertelsel).

Sejarah Kampung Ketandan - Berita Jogja

Wayang Potehi, kebudayaan warga Tioghoa di Ketandan yang masih lestari (Foto: Cahyo)

Namun, etnis Tionghoa kala itu mendapat restu Sultan HB II untuk menetap di Kampung Ketandan. Maksud Sultan HB II kala itu adalah warga tionghoa dapat mendorong perekonomian di Malioboro yang saat itu hanya berpusat di Pasar Beringharjo saja.

Mulanya, warga Tionghoa di Kampung Ketandan memulai berdagang jamu dan obat. Setelah melewati masa berjualan obat, beberapa etnis Tionghoa di Kampung Ketandan berjualan roti dan kue.  Banyaknya pengubahan sosial membuat warga Tionghoa di Ketandang pada 1950-an beralih menjadi pedagang emas dan permata. Aktivitas ini pun kemudian diturunkan secara turun menurun hingga kekinian.

Pada 20 Februari 2013, Sri Sultan Hamengku Buwono X (HB X) meresmikan sebuah gapura megah dengan ornamen khas Tionghoa. Gapura yang yang didominasi merah dan biru ini memuat tulisan dengan tiga aksara yaitu mandarin, jawa, dan Indonesia. “Ini adalah bukti adanya akulturasi yang kuat,” tegas Sultan.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar