Sejarah Pasar Kranggan

Sejarah Pasar Kranggan: Bagian Tionghoa Jogja

Oleh Maya Eka,

BERITA JOGJA – Awal abad ke-19, Pemerintah Kolonial Belanda membuat peraturan yang bernama Wijkenstelsel. Pertauran ini membagi wilayah pemukiman dalam tata ruang kota Jogja masa itu. Mulai dari pribumi hingga pendatang diwajibkan membuat perkampungan yang berisi orang-orangnya sendiri. Dari catatan sejarah, warga Belanda mendiami Kampung Eropa di daerah Kota Baru. Mereka menghuni Loji kecil di […]

BERITA JOGJA – Awal abad ke-19, Pemerintah Kolonial Belanda membuat peraturan yang bernama Wijkenstelsel. Pertauran ini membagi wilayah pemukiman dalam tata ruang kota Jogja masa itu. Mulai dari pribumi hingga pendatang diwajibkan membuat perkampungan yang berisi orang-orangnya sendiri.

Sejarah Pasar Kranggan

Suasana di pasar Kranggan (Foto: Istimewa)

Dari catatan sejarah, warga Belanda mendiami Kampung Eropa di daerah Kota Baru. Mereka menghuni Loji kecil di sekitar wilayah tersebut. Warga Tionghoa ditempatkan di tempat yang saat dikenal dengan jalan A.M.Sangaji.

Setelah Gempa besar pada 1866, penduduk Tionghoa, yang sudah tidak memburuh pada Belanda mulai menggerakan perekonomian di sekitar wilayah pemukiman mereka. Tempat itu, yang kini dikenal dengan Pasar Kranggan sudah menjadi salah satu pusat ekonomi di Jogja di awal abad ke-19 yang dimotori oleh warga Tionghoa.

Sebagai pasar yang masih relatif baru, Kranggan cepat menyedot perhatian dan jadi salah satu pusat ekonomi selain Bringharjo. Situasi ini sendiri bertahan hingga pertengahan 1940an. Tahun tersebut juga menjadi tahun berjayanya penduduk Tionghoa di Jogja. Tidak hanya dilindungi Kraton, warga Tionghoa juga dilindungi pemerintah Belanda dengan UU Hak Istimewa perdagangan.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar