Ilustrasi sekolah tempo doeloe (Dok Istimewa)

Sekolah-Sekolah Liar di Jogja

pada 1936 tercatat sebanyak 1663 sekolah liar berdiri dan menerima pendaftaran 114 ribu murid.

BERITA JOGJA – Pendidikan di Jogja di masa pemerintahan Hindia Belanda diksriminatif. Mereka yang boleh bersekolah hanya keluarga dari keturunan ningrat, priyai, dan warga Belanda saja. Kondisi ini membuat Ki Hajar Dewantara gerak sekaligus muak. Di tengah kegeraman itu Ki Hajar mendirikan sekolah Taman Siswa pada 3 Juli 1922. Sekolah ini pun memberikan pendidikan ke semua kalangan.

Ilustrasi sekolah tempo doeloe (Dok Istimewa)

Ilustrasi sekolah tempo doeloe (Dok Istimewa)

Berdirinya Taman Siswa memicu reaksi pemerintah Hindia Belanda. Mereka menganggap Taman Siswa sebagai sekolah liar yang keberadaannya menentang pemerintah Hindia Belanda. Satu tahun setelah berdirinya Taman Siswa, pemerintah mengeluarkan ordonasi sekolah liar di Jogja dan Jawa Tengah. Namun peraturan ini bukannya membuat takut para pejuang pendidikan, malah makin banyak sekolah-sekolah untuk rakyat berdirian.

Baru pada 1932 Hindia Belanda menurunkan kebijakan pengekangan luar biasa terhadap sekolah-sekolah liar, dikenal dengan Wildeschoolen Ordonantie. Setiap orang yang bermaksud menyeleggarakan pendidikan harus meminta izin pada Hindia Belanda. Kalau tidak, Hindia Belanda akan mencabut izin sekolah.

Selain itu, para guru dari sekolah liar juga diwajibkan membuat laporan pada pemerintah. Kalau membangkang, para guru akan mendapat denda  dan penjara. Lebih berat lagi kalau mereka masih mengajar akan dipenjara 30 hari. Tapi kebijakan itu tidak membuat takut mereka yang berniat mendirikan sekolah. Sebaliknya, makin banyak saja sekolah yang berdiri di Jogja.

Melansir Historia, pada 1936 tercatat sebanyak 1663 sekolah liar berdiri dan menerima pendaftaran 114 ribu murid. Jumlah ini bertambah menjadi 1.961 sekolah setahun setelahnya. Yudi Latif dalam Intelegensia Muslim dan Kuasa pernah mengurai sebab mengapa kebijakan Belanda tak membuat takut Ki Hajar Dewantara dan orang-orang lainnya. Dari catatannya, keadaan ekonomi Belanda pada 1930-an membikin dana pendidikan pemerintah Hindia Belanda dipotong. Biaya sekolah jadi sangat mahal dan membuat pribumi maupun anak-anak priyai lebih memilih sekolah liar.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar