sekolah-sekolah zaman belanda di Jogja

Sekolah-Sekolah Zaman Belanda di Jogjakarta (Bagian Pertama)

Oleh Nur Janti,

BERITA JOGJA – Pada masa kolonial, daerah pemukiman orang Belanda terletak dari Benteng Vredeburg hingga Perempatan Gondomanan. Wilayah tersebut terkenal dengan Jalan Loji Kecil. Dahulu, para pangeran dan putra bangsawan dititipkan di pemukiman Belanda. Sebab, di pemukiman orang Belanda terdapat Europeesche Lagere School (ELS), yakni sekolah untuk anak Belanda dan gereja di wilayah ini. Sebelum […]

BERITA JOGJA – Pada masa kolonial, daerah pemukiman orang Belanda terletak dari Benteng Vredeburg hingga Perempatan Gondomanan. Wilayah tersebut terkenal dengan Jalan Loji Kecil. Dahulu, para pangeran dan putra bangsawan dititipkan di pemukiman Belanda. Sebab, di pemukiman orang Belanda terdapat Europeesche Lagere School (ELS), yakni sekolah untuk anak Belanda dan gereja di wilayah ini.

sekolah-sekolah zaman belanda di Jogja

Istimewa

Sebelum barat masuk ke Indonesia, pendidikan di Jogjakarta, terutama di Kraton masih menggunakan sistem pendidian tradisional. Ada Kaji Selusin, orang yang mengajarkan agama dan Tepas Widyabudaya mengajarkan budaya dan sastra. Putra mahkota juga diajarkan mengenai tata pemerintahan, militer, ekonomi, dan kesenian susai yang tercantum dalam Piwulang.

Saat Sultan Hamengku Buwono VII berkuasa, pendidikan Belanda dibuka selebar-lebarnya. Sekolah khusus keluarga kerajaan pun dibuka di Tamanan. Guru-guru, termasuk guru Belanda dihadirkan dari luar Kraton. Saat pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII, sekolah ini dipindahkan ke luar Kraton.

Setelah sistem Belanda masuk, pendidikan di Jogja mulai berubah. Anak-anak bangsawan mulai dimasukkan ke sekolah-sekolah Belanda juga dititipkan ke kediaman orang Belanda. Banyaknya kaum bangsawan yang ingin mengikuti pendidikan ala barat ini kemudian memunculkan sekolah untuk kaum pribumi sehingga sekolah untuk penduduk Eropa dan pribumi dipisah.

Setelah meluluskan pendidikan dasar, banyak anak bangsawan yang kemudian dikirim ke Eropa untuk melanjutkan pendidikan di sana. Sultan Hamengku Buwono VIII mengirimkan Dorodjatun, salah satu puteranya untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Leiden, Belanda. Setelah menyelesaikan sekolahnya, Darajatun kembali ke Yogyakarta dan menjadi penerus tahta dengan gelar Sultan Hamengku Buwono IX.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar