Sempat Dapat Ancaman, Diskusi Buku Aidit di Jogja Jalan Terus

Perwakilan Ormas sempat mendatangi IBC lalu meminta diskusi dibatalkan.

BERITA JOGJA – Diskusi dan peluncuran buku berjudul Aidit, Marxisme-Leninisme dan Revolusi Indonesia yang diselenggarakan Indie Book Corner (IBC) di Dongeng Kopi Jogja, Gorongan, Sleman, Sabtu (20/8) malam tetap berlangsung meskipun sempat mendapat ancaman pembubaran dari beberapa ormas. Menurut Pimpinan Redaksi IBC yang juga menjadi moderator diskusi, Ahmad Khadafi, ancaman pembubaran diskusi sempat muncul beberapa jam sebelum acara berlangsung. Ancaman tersebut muncul baik lewat telepon maupun ada beberapa perwakilan ormas yang mendatangi tempat diskusi beberapa jam sebelum acara dan meminta acara dibatalkan.

“Tadi siang sekitar pukul 14.00, ada beberapa perwakilan dari massa yang mengatasnamakan Elemen Merah Putih datang ke tempat diskusi. Mereka mendatangi kami untuk menyuruh diskusi dan peluncuran buku Aidit dibatalkan. Bahkan mereka mengancam akan mengerahkan ratusan massa untuk membubarkan diskusi jika panitia tetap ngotot acara diselenggarakan,” jelas Khadafi saat ditemui Beritajogja.id di Kantor IBC, Sabtu siang.

Suasana diskusi buku di Dongeng Kopi (Foto: Cahyo PE)

Suasana diskusi buku di Dongeng Kopi (Foto: Cahyo PE)

Khadafi menjelaskan bahwa untuk menengahi perbedaan pendapat antara IBC dengan ormas yang mengancam pembubaran, dirinya meminta kepada para perwakilan ormas untuk hadir sebagai peserta sekaligus juga sebagai pembicara. Tujuannya supaya pendapat dari para anggota ormas ini juga bisa digunakan sebagai pembanding dari para pembicara diskusi.

“Mereka kami tawari menjadi pembicara ketiga dalam diskusi. Tapi mereka menolak tawaran dari kami. Menjadikan perwakilan dari ormas ini supaya pendapat dari kawan-kawan ormas ini juga bisa diakomodir dan didiskusikan bersama di dalam forum. Kalau ada yang berbeda pandangan dalam diskusi, suasananyakan jadi makin menarik dan banyak pemikiran yang bisa dipetik oleh para peserta diskusi,” ungkap Khadafi.

Di bawah rasa was-was ancaman pembubaran diskusi, pihak IBC tetap menggelar acara tersebut. Acaranya yang sedianya dilakukan pada pukul 18.30 WIB sedikit molor menjadi pukul 19.20. Puluhan peserta diskusi pun hadir di acara yang menghadirkan dua pembicara yaitu Satrio Priyo Utomo selaku penulis buku dan Muhidin M. Dahlan selaku kerani dari Indonesia Buku.

Dalam diskusi tersebut, Satrio mengatakan bahwa buku yang ditulisnya merupakan hasil dari skripsinya sewaktu menempuh kuliah di Ilmu Sejarah, Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Dari hasil penelitiannya, Satrio menemukan bahwa pemikiran Aidit lebih banyak dipengaruhi oleh pemikiran Soekarno dan Tan Malaka.

“50 persen dipengaruhi oleh Soekarno dan 50 persen lagi pemikiran Aidit mendapat pengaruh dari Tan Malaka,” jelas Satrio.

Satrio juga menjelaskan bahwa pemikiran Aidit banyak dipengaruhi oleh kedekatannya dengan kaum proletar. Aidit yang merupakan penduduk Belitung, di masa kecilnya banyak bersinggungan dan mengenal kehidupan kaum proletar terutama kaum buruh timah di Belitung. Dari kedekatan inilah pemikiran Marxisme banyak memberi pengaruh pada Aidit. Aidit lalu menyempurnakan pemahaman Marxisme kala berguru kepada Soekarno di Jakarta.

Sedangkan menurut Muhidin, Aidit itu ibarat kertas contekan bagi para pelajar. Sosoknya saat ini banyak dibaca secara diam-diam. Kalau ketahuan membuka kertas contekan akan mendapatkan hukuman dari guru. Padahal kertas contekan ini berguna sekali.

“Aidit punya peran penting dalam dunia literasi di Indonesia. Di era nya hanya ada dua penulis yang menerbitkan buku pemikiran yang jumlah halamannya sangat tebal. Pertama adalah Soekarni dengan buku Di Bawah Bendera Revolusi I dan II. Kemudian Aidit dengan buku Pilihan Tulisan jilid I dan II. Sama tebalnya itu dengan bukunya Soekarno,” terang Muhidin.

Muhidin menambahkan bahwa Aidit membangun partainya bukan dengan senjata tetapi menggunakan produk literasi yaitu jurnal. Bagi Aidit, pendidikan paling berat adalah mendidik kader untuk mengerti ideologi partai. Caranya supaya kader bisa mengerti, Aidit lewat PKI kemudian membuat semacam jurnal yang dibagikan kepada kader-kadernya.

Selain itu, Aidit juga mendukung cita-cita Soekarno untuk membuat Indonesia Bebas Buta Huruf pada Desember 1964. Paham bahwa sebagian besar kader PKI ketika itu masih buta huruf maka Aidit membuat buku saku untuk kadernya. Perang buta huruf pun massif dilakukan. Buku saku tersebut dibagikan keseluruh kader PKI.

“Aidit itu penting untuk dikenal sebagai orang literasi dan punya pendekatan kepada rakyat dengan budaya literasi. Aidit itu seorang ketua partai yang mendekatkan diri pada kadernya dengan budaya literasi. Dia membangun budaya literasi di partai yang dia pimpin. Cara ini yang sekarang tak lagi dilakukan oleh para ketua partai politik di Indonesia,” pungkas Muhidin.

Hingga diskusi dan peluncuran buku usai, ancaman pembubaran dari beberapa ormas tak terbukti. Diskusi tetap bisa berjalan dengan baik dan diikuti dengan khidmat oleh para peserta diskusi.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar