Ilustrasi senja (Dok Istimewa)

Senjakala Parpol di Jogja

Oleh Jatu Raya,

Banyak anggota Parpol menjadi terduga koruptor atau memanfaatkan jabatan liburan ke luar negeri.

BERITA JOGJA – Jelang pemilihan Walikota Jogja 2017, Partai Politik (Parpol) dapat sengatan listrik. Tidak pernah diduga atau diramalkan sebelumnya bakal muncul gerakkan dari masyarakat menentukkan calon dan kriteria Walikotanya sendiri. Gerakkan Jogja Independent (Joint) muncul pertengahan Maret lalu dan kini sudah menasbihkan 15 sosok calon Walikota.

Ilustrasi senja (Dok Istimewa)

Ilustrasi senja (Dok Istimewa)

Parpol dengan calon-calonnya kudu takut. Ke-15 calon itu cukup populer dan mengetahui benar keinginan masyarakat Jogja. Beberapa ada juga yang bersentuhan langsung dengan kebudayaan, kesenian, ekonomi, dan pendidikan di Kota Jogja yang sudah jadi warisan sejak zaman dulu.

Para calon ini sehari-hari memang bekerja dan bersinggungan dengan itu semua. Ada Garin Nugroho, sineas, yang memang sudah sering bersinggungan dengan kebudayaan. Warga Beji Pakualaman ini juga tahu betul konsep-konsep budaya di Jogja.

Ada juga calon termuda, Emmy Yuniarti, peneliti di berbagai organiasi, Konsultan UMKM Rommy Heryanto, Eks Dirut BUMN Transtoto Handhadari, Siti Ruhayani yang kesehariannya sebagai akademisi, eks anggota KPUD Jogjakarta Titok Haryanto, dan nama-nama lain yang cukup tahu kondisi Jogja kekinian.

Dibanding calon dari parpol, nama-nama itu sudah cukup populer di masyarakat. Garin Nugroho misalnya. Kepopulerannya pun sudah memelosok.

Dibanding parpol yang mendekati pemilihan cenderung tertutup soal dana kampanye, Joint sebaliknya. Mereka membuka institusi yang bersifat imajiner namun bisa diakses dan diketahui publik. Contohnya saat membuka jalur donasi untuk para calon bertajuk Jogja Urunan. Segala transaksi akan dilaprkan secara berkala melalui laman resmi Joint di Jogjaindependent2017.com.

Gerakkan ini sifatnya terbuka. Masyarakat benar-benar dipartisipasikan dalam kegiatan politik. Partisipasi masyarakat tidak lagi hanya sekadar memilih para calon yang ditentukan parpol dan tidak lagi menjadi objek amplop penanda suara. Masyarakat digiring untuk tidak menukar hak suaranya. Masyarakat memberi uang bagi para calon untuk berkompetisi, bukan lagi=dari realitas kekinian- jadi obejk amplop semata.

Sedangkan Parpol sudah mulai kehilangan kepercayaan dari masyarakat. Banyak anggota Parpol yang duduk di DPR menjadi terduga koruptor atau memanfaatkan jabatan untuk liburan ke luar negeri. Belum lagi adanya tokoh pemimpin daerah dari parpol yang kedapatan pesta sabu.

Di Jogja juga sama saja. Calon-calon parpol kurang mendapat atensi positif selama tiga tahun terakhir. Terlebih melihat kondisi Jogja saat ini yang hanya mampu diselesaikan mereka yang berstatus kader partai di pemerintahan dengan janji dan kalimat pelega di media.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar