Bob Marley pemain bola

Sepak Bola dan Mariyuana dalam Etre-en-soi-pour-soi Bob Marley

“Football is a whole skill to itself. A whole world. A whole universe to itself. Me love it because you have to be skillful to play it! Freedom! Football is freedom!” Bob Marley mengatakan ini pada tahun 1979, dua tahun sebelum ia meninggal karena penyakit melanoma. Ironisnya, penyakit tersebut menimpa Marley pasca ia selesai bermain […]

“Football is a whole skill to itself. A whole world. A whole universe to itself. Me love it because you have to be skillful to play it! Freedom! Football is freedom!”

Bob Marley mengatakan ini pada tahun 1979, dua tahun sebelum ia meninggal karena penyakit melanoma. Ironisnya, penyakit tersebut menimpa Marley pasca ia selesai bermain bola di London pada tahun yang sama.

Bob Marley pemain bola

Sumber: Istimewa

Sebagai seniman, cukup dimaklumi jika Marley menyebut sepak bola sebagai olahraga libertarian. Atas kecenderungan tersebut pula, maka tak perlu diherankan jika ia kemudian menggilai kultur sepak bola Brasil yang memang identik dengan–meminjam judul analisis Jose Sergio Leite Lopes tentang Garincha– ”The People’s Joy”.

Semasa hidup, Marley mengaku sebagai suporter Santos. Dalam banyak kesempatan wawancara, ia juga kerap menyebut dua nama beken, Pele dan Osvaldo Ardilles, sebagai idolanya sepanjang masa di lapangan hijau.

Kala ia melakukan tur musik ke Rio de Janeiro pada tahun 1980, Marley pun menyempatkan diri merumput bersama beberapa pemain dari Nantes, tim nasional Brasil,dan Haiti, dalam pertandingan yang digelar oleh salah seorang musisi legendaris Brasil, Chico Buarque. Sebelum laga dimulai, Paolo Cesar, salah seorang anggota skuat Brasil 1970, sempat memberikan jersey Santos bernomor punggung 10 milik Pele yang dikeramatkan.

Marley kala itu tergabung dalam Tim A bersama Cesar, Junior Marvin (salah seorang personil The Wailers), Caju (salah seorang anggota skuat Brasil 1970 lainnya), Toquinho (musisi Brasil), serta Chico Buarque, dan Jacob Miller (vokalis dari Inner Circle). Sementara itu Tim B diperkuat Alceu Valenca (juga salah seorang musisi Brasil), Chicao (personil dari band Jorge Ben) dan empat orang anggota Island Records, label rekaman yang menaungi The Wailers.

Kendati ia turun bermain dengan ibu jari kaki yang sudah didakwa terinfeksi melanoma, Marley toh tetap mampu mencetak dua gol.

Sikap Marley memandang sepak bola sebagai sarana kebebasan (kemerdekaan) dapat kita telusuri sejarahnya di sepanjang jalan di West Kingston, Jamaika. Di jalan itulah, Marley bersama kawan-kawannya biasa menghabiskan waktu untuk membunuh nasib yang kelewat sulit dengan bermain sepak bola.

“Ketika saya hidup di ghetto (pemukiman kumuh), setiap hari saya harus melompati pagar demi menghindari kejaran polisi. Bukan selama seminggu, tapi tahunan!” ujar Marley pada Vivien Goldman, salah seorang biografer Marley yang sudah menulis dua buku tentangnya, Bob Marley, Soul Rebel – Natural Mystic (1981) and The Book of Exodus: The Making and Meaning of Bob Marley and the Wailers’ Album of the Century.

Melalui masa silamnya tersebut, cukup dapat dimaklumi jika antusiasme Marley terhadap sepak bola lekat dengan pemahaman yang eksistensialistik. Sepak bola dan Marley seolah menjalin dualisme etre-en-soi-pour-soi (salah satu konsep ‘ada’ menurut pemikiran Sartrean) dalam hidupnya: ia hadir begitu saja, tanpa dasar, tanpa campur tangan pihak lain. Akan tetapi, di satu sisi ia juga menganggap sepak bola sebagai sesuatu yang terberi dari luar dirinya. Sikap semacam ini dianggap Sartre sebagai sesuatu yang sia-sia.

Begini, dalam “Being and Nothingness”, Sartre mendikotomikan status ontologis manusia menjadi dua, etre-en-soi (being-in-itself, ada-dalam-dirinya) dengan etre-pour-soi (being-for-itself, ada-bagi-dirinya). Manusia sebagai en-soi adalah manusia yang tidak berkesadaran. Statusnya sama seperti hewan, tumbuhan, atau batu. Dengan kata lain, apa yang ada adalah identik dengan dirinya sendiri.

Keadan tersebut bersifat masif, tertutup rapat, tanpa lubang, tanpa celah, self-contained, dan tidak ada hubungan dengan apa pun juga . En-soi terjadi karena secara kebetulan, dan bukan ciptaan “sesuatu-di luar-dirinya” (untuk mempermudah, kita sebut saja Tuhan). Mengapa demikian? Sebab seandainya manusia diciptakan, en-soi itu ada di dalam pikiran Tuhan atau di luarnya. Bila di dalam, maka belum tercipta, bila di luar maka ia bukan ciptaan karena berdiri sendiri.

Sementara itu, etre-pour-soi adalah keadaan di mana manusia sudah mempunyai kesadaran tentang sesuatu di luar dirinya . Sadar akan adanya Subjek dan Objek, sadar bahwa ada jarak antara diri dan kesadaran. Dan sadar akan sesuatu, akan adanya jarak, bagi Sartre adalah meniadakan (neantiser) sesuatu. Sadar akan diri sendiri adalah meniadakan diri sendiri. Peniadaan itu terjadi terus menerus, tidak pernah berhenti (sampai kemudian mati, tentu saja), sebab manusia tidak pernah berhenti berbuat sesuatu.

Dari pengertian entre-pour-soi tersebut, Sartre kemudian mendakwa manusia dikutuk kebebasannya sendiri. Sebab, etre-pour-soi memiliki celah dan selalu ingin menjadi etre-en-soi-pour-soi, sekaligus keduanya. Hal tersebut merupakan kesia-siaan eksistensi manusia yang disebut Sartre sebagai “man is a useless passion” lantaran entre-pour-soi berupaya untuk menduplikasi eksistensi “Tuhan”.

Adapun cara bagi eksistensi manusia demi mendapatkan kebebasan mutlak, Sartre bersikap dengan meniadakan konsep “Tuhan”. Inilah sikap eksitensialisme atheistik Sartrean yang bertentangan dengan konsep Husserl mengenai esensi atau eidos. Manusia semestinya tak perlu mengontekstualisasi eksistensinya dengan “sesuatu-di luar-dirinya”.

Jika dicermati, dengan melihat kehidupan Marley, teori Sartre mengenai eksistensi manusia tersebut sejatinya dapat dengan mudah dipatahkan.

Hal tersebut dapat ditilik dalam salah satu artikel mengenai Marley pada Majalah FourFourTwo edisi Maret 2008. Dalam artikel tersebut, FFT memuat artikel mengenai kedekatan Marley dengan salah satu legenda sepak bola profesional Jamaika pada era 1960an-1970-an, Allan “Skilly” Cole. Cole sendiri sempat menjadi “road manager” Bob Marley.

Kedekatan keduanya tak hanya dikarenakan sama-sama gemar bermain sepak bola. Lebih jauh, Cole bahkan sampai berpindah kepercayaan demi Marley. Dari yang semula Katolik, lalu berubah menjadi Rastafarian. Ironisnya, pergeseran iman tersebut ternyata berimbas negatif terhadap karir sepak bolanya: ia dipecat dari Nautico, salah satu klub di Brasil tempat ia bermain pada tahun 1972.

Rastafari adalah semacam “way of life” atau gerakan spiritual yang muncul pada tahun 1930 di Jamaika. Para penganutnya menyembah Haile Selassie I, Kaisar Ethiopia (memerintah 1930-1974), yang dianggap sebagai reinkarnasi Yesus, tetapi berkulit hitam.

Sikap religius Marley terhadap Rastafari pernah dikemukakannya dalam sebuah wawancara. Ketika itu, sang jurnalis menanyakan kepada Marley seperti apa rasanya menjadi seorang Rastafarian. Begini cuplikan dialognya sebagaimana dikutip dari buku Bob Marley: The Biography:

Jurnalis: “Bisakah Anda memberitahu orang-orang apa artinya menjadi seorang Rastafarian?”

Marley: “Saya akan mengatakan kepada orang-orang, ‘Tenanglah dan ketahuilah, bahwa Yang Mulia Kaisar Haile Selassie dari Ethiopia adalah Sang Maha Kuasa. Alkitab mengatakan demikian, kitab Babylon juga menyebut hal yang sama, begitu juga dengan saya dan anak-sanak saya,’ mengerti? Jadi, saya tak mengerti apa lagi yang mereka inginkan? Tuhan berkulit putih? Tuhan datang dengan kulit hitam, itulah yang benar.”

Masih di buku yang sama, Marley menyebut dirinya berafiliasi dengan “Suku Mansion ke-12” dan acap disebut memiliki keturunan dengan Nabi Yusuf (“Tribe of Joseph”) karena ia lahir pada bulan Februari. Walau demikian, beredar rumor beberapa saat sebelum kematiannya, Marley sempat dibaptis secara Kristiani oleh Uskup Agung dari Gereja Ortodoks Ethiopia, Abuna Yesehaq, di Kongston, Jamaica, pada 4 November 1980.

Marley menggabungkan trinitas kesadaran religius, keindahan musik, dan keasyikan bermain bola sebagai senjata dalam memperjuangkan perdamaian. Apalagi yang lebih indah dari bermain bola sembari mendengarkan musik dan mengisap ganja? Pada konteks ini, Marley menghadirkan sepak bola sebagai sesuatu yang, seperti kata Galeano, “mirip permainan misteri tanpa tujuan, selain menikmati dan menunaikan permainan itu”.

Pada 11 Mei 1981, sekitar pukul 11.40 siang waktu setempat, Marley meninggal karena kanker melanoma yang dideritanya. Seluruh dunia berkabung. Tubuhnya dibaringkan dalam sebuah peti mati di rumahnya di Miami, Amerika Serikat. Delapan hari setelah kematiannya, jasad Marley baru dipulangkan ke Jamaika.

Setibanya di tanah kelahiran, Perdana Menteri Jamaika kala itu, Edward Seaga, salah satu orang yang diduga pernah berencana untuk membunuh Marley, memimpin upacara penghormatan terakhir untuk “Sang Nabi” di hadapan lebih dari 40.000 orang, pada Rabu 20 Mei 1981, bertempat di.Area Nasional Kingston. Barulah pada keeseokan harinya jenazah Marley dibawa menuju tempat kelahirannya di Nine Miles, St. Ann untuk dikuburkan di sana.

Ada empat benda yang turut dikuburkan bersama jenazah Marley kala itu: sebuah gitar Gibson Les Paul yang biasa digunakannya, sepucuk mariyuana, sebuah Alkitab, dan…

 

sebuah bola.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar

  • bob marley

    Owra mudheng blaaaasssss

    • Raztafara

      sing pentin tetep uyeee