Setara Institute: Pembubaran Peringatan Kebebasan Pers di AJI Jogja Penanda Serius Intoleransi

Oleh Jatu Raya,

Pembubaran Peringatan Hari Pers di AJI Jogja menunjukkan tingginya intoleransi di Jogja.

BERITA JOGJA – Dibubarkannya peringatan World Press Freedom Day (WPFD) di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jogja, Selasa (3/5) malam lalu oleh kepolisian mendapat kecaman sekaligus kekecewaan banyak pihak. Pembubaran tersebut juga dipandang sebagai penanda serius intoleransi di Jogja.

Toleransi tinggal menunggu tiang gantungan (Ilustrasi: Istimewa)

Toleransi tinggal menunggu tiang gantungan (Ilustrasi: Istimewa)

Halili Hasan, pengamat politik dan sosial Setara Institue membenarkan hal tersebut. Pada Beritajogja.id, Rabu (4/5) petang, ia melihat ada dua persoalan serius soal intoleransi. Pertama, jelasnya, intoleransi yang dilakukan masyarakat sipil.

“Di sisi masyarakat, pembubaran peringatan Hari Pers Sedunia itu jadi penanda bahwa intoleransi di masyarakat sudah sangat tinggi. Ini memperkuat hasil penelitian banyak pihak bahwa intoleransi di Jogja memang sudah mengkhawatirkan di tingkat masyarakat,” tegasnya.

Kedua, ia melihat intoleransi masyarakat sipil ini mendapat respon aneh dari negara. Seharusnya negara memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan kebebasan berpendapat, berserikat, dan berkumpul pada setiap masyarakat bukan malah sebaliknya.

“Pembubaran oleh kepolisian menunjukkan respon negara tidak berubah. Selau berpihak pada orang intoleran. Negara harusnya menjamin kebebasan tapi malah sebaliknya. Ini persoalan serius dan kalau tak berubah, predikat Kota Toleran di Jogja bakal jadi bahan tertawaan orang-orang,” tutupnya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar