Slamet Cari Ibu Selama 14 Tahun Hanya Berbekal Ingatan

Oleh Jatu Raya,

BERITA JOGJA – Suatu pagi empatbelas tahun lalu, Slamet Apriyanto tampak kedinginan usai dimandikan Sulastri, neneknya. Setelah digosok-gosokkan tubuhnya dengan minyak kayu putih, Slamet yang kala itu berusia tujuh tahun lalu dipakaikan seragam merah-putih. Neneknya lalu mengambil minyak rambut seukuran kuku jari telunjuk. Dengan sisir berbentuk setengah elips, Neneknya menyisir rambut Slamet di depan cermin […]

BERITA JOGJA – Suatu pagi empatbelas tahun lalu, Slamet Apriyanto tampak kedinginan usai dimandikan Sulastri, neneknya. Setelah digosok-gosokkan tubuhnya dengan minyak kayu putih, Slamet yang kala itu berusia tujuh tahun lalu dipakaikan seragam merah-putih. Neneknya lalu mengambil minyak rambut seukuran kuku jari telunjuk. Dengan sisir berbentuk setengah elips, Neneknya menyisir rambut Slamet di depan cermin dalam kamar berukuran 4×5 meter di rumahnya.

Di samping Slamet, ibunya juga asik berdandan. Ibunya memakai baju warna putih yang selaraas dengan merah gincu yang diusap tipis. Slamet memainkan ujung rambut panjang Ibunya. Dalam hati Slamet, ia yakin bahwa Ibunya berdandan untuk mengantarkannya ke sekolah. Tiba-tiba pintu diketuk. Ibu Slamet bergegas keluar kamar lalu membukakan pintu. Tak berselang lama, Ibunya lalu kembali ke arah Slamet dan neneknya.

“Ibu tak pergi dulu ya,” pamit Ibu Slamet lalu pergi.

Sosok

Slamet saat ditemui di tempat kerjanya. (Foto: Azka Maula)

Slamet ingat betul peristiwa itu. Pagi itu jadi kali terakhir baginya melihat Ibunya di rumah yang beralamat di Gebang, RT 01 RW 01 Wironatan, Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo. Setelah peristiwa itu pramusaji sebuah warung kopi di bilangan Mrican, Caturtunggal, Sleman ini terus menanyakan ibunya pada Sang nenek.”Sampai kelas satu SMP, saya terus menanyakan Ibu pada nenek saya. Nenek hanya bilang kalau suatu saat Ibu pasti pulang,” kata pria 22 tahun ini.

Supriyati, Ibunya,sejak saat itu tidak pernah kembali. Sedangkah Ayah Slamet, juga tak tahu ada di mana. Slamet mengaku tak pernah mengingat wajah ayahnya. “Saya tidak tahu ayah ada di mana juga sekarang. Waktu kelas dua SMP, saya bersama adik saya Andi Aryanto, masuk panti asuhan karena nenek tidak mampu lagi membiayai sekolah dan kebutuhan sehari-hari,” ceritanya

Sejak saat itu Slamet selain bersekolah juga mencari kerjaan sambilan. Pagi sampai siang ia sekolah, lalu sorenya bekerja bangunan agar bisa membelikan adiknya mainan. Selesai bekerja, Slamet sering duduk di depan panti menunggu ibunya. “Saya dulu ingat tiap malam menunggu Ibu di depan panti asuhan. Sampai ngantuk baru masuk kamar lagi atau main sama adik,” kenangnya.

Saat kelas tiga SMP, ia mendapat informasi keberadaan Ibunya dari teman nenek Dari informasi yang ia dapat Ibunya berada di salah satu dusun di Wonogiri. Tanpa pikir panjang, Slamet menyiapkan tas ransel butut yang dipunyainya. Dipecahnya tabungan dari tanah liat berbentuk ayam jago di kamar panti asuhan. Dengan bekal secukupnya, ia berangkat ke Wonogiri.

Halaman

1 2

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar

  • ganes

    Ini yang jaga kafe di daerah Mrican bukan yak? kok samar-samar pernah lihat..kopimu sepahit cerita hidupmu mas!

  • Shifa

    Kasirnya apa ya klo ga salah.. Moga cepet ketemu Mas, T_T

  • Bachroni

    Sabar ya nak…