Stadion di Jogja Terancam Sepi, Mbah Kabul Bingung Jualan di Mana

Oleh Jatu Raya,

BERITA JOGJA – Pasca dibubarkannya Liga Divisi Utama (DU) oleh Kemenpora, tiga stadion di Jogjakarta yang jadi kandang PSIM, PSS, dan Persiba terancam sepi. Pasalnya tim tiga klub tersebut berpeluang besar dibubarkan. PSS Sleman sendiri sudah menyatakan pembubaran tim, Minggu (10/5) tadi. Adanya pembekuan PSSI oleh Kemenpora ini tak hanya berdampak pada klub dan pemain […]

BERITA JOGJA – Pasca dibubarkannya Liga Divisi Utama (DU) oleh Kemenpora, tiga stadion di Jogjakarta yang jadi kandang PSIM, PSS, dan Persiba terancam sepi. Pasalnya tim tiga klub tersebut berpeluang besar dibubarkan. PSS Sleman sendiri sudah menyatakan pembubaran tim, Minggu (10/5) tadi.

Kisruh PSSI

Mbah Kabul duduk santai di kursi Stadion Maguwoharjo. (Foto: Rohaji)

Adanya pembekuan PSSI oleh Kemenpora ini tak hanya berdampak pada klub dan pemain saja, namun juga orang-orang di luarnya. Salah satunya pedagang asongan di Stadion.

Setiap pertandingan sepakbola yang berada di bawah naungan PT Liga Indonesia di Jogja selalu mendatangkan para pedagang asongan ke stadion. Kabul misalnya. Pria 60 tahun ini bahkan sudah mulai bedagang sejak tahun 1980an.

“Saya sudah dari tahun 1980. Waktu itu PSIM masih main di Kridosono. Jajanannya enggak banyak berubah, ya tetap yang ini (menunjuk dagangan) lemper, tahu, air mineral, sama kacang. Yang berubah cuma harganya saja,” ceritanya ketika ditemui di Stadion Maguwoharjo.

Kabul tidak punya profesi lain. Di stadion ia menggantungkan hidupnya. Dibekukannya liga plus ancaman pembubaran tim asal Jogja membuatnya bingung di mana lagi menjajakan dagangan. “Waduh Gusti (menepuk kepala) di mana lagi ini aku nawari lemper. Stadione kosong kantungku bolong,” keluhnya ketika diberitahu adanya wacana pembubaran tim.

Ketika tidak ada pertandingan atau saat tim libur latihan, Kabul biasanya mencari tempat keramaian lain. Misalnya saja konser musik sampai wisuda. Namun penghasilannya tak sebanyak ketika ada pertandingan sepakbola di stadion. Lagipula di stadionlah ia jadi dirinya sendiri.

“Kalau di stadion orangnya santai-santai, saya bisa gojeg sama penonton sambil jualan. Tapi kalau wisuda, harus jaga sikap, biasa saja jadinya.  Dagangannya juga agak mewah lah, masa Ibu-Ibu dari sarjana ditawari lemper,” cerita kakek dua orang cucu ini.

Kabul berharap kisruh antara Kemenpora dan PSSI bisa cepat selesai. Sebab dampak adanya pembekuan PSSI diikuti dibubarkannya liga sangat merugikan orang-orang yang mencari makan di sepakbola.

“Ojo do mikir wetenge dewe lah. Kalau kisruh selesai, nanti tak kasih lemper wis,” janjinya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar