Sultan Angkat Pembayun, Sejarawan: Mungkin Monogami Bikin Pilihan Sultan Terbatas

Oleh Kresna,

BERITA JOGJA – Dibanding Sultan terdahulu, Hamengku Buwono (HB) X tidak menganut pernikahan poligami. Hal ini membuat pilihan penerus mahkota Raja Kraton terbatas. Sebagaimana diketahui, Sultan tidak memunyai anak laki-laki dari pernikahannya dengan GKR Hemas. Di lain sisi, adalah hak Sultan sepenuhnya untuk menentukkan penggantinya. Demikian analisa Prof. Djoko Suryo, Guru Besar Sejarah UGM, Selasa […]

BERITA JOGJA – Dibanding Sultan terdahulu, Hamengku Buwono (HB) X tidak menganut pernikahan poligami. Hal ini membuat pilihan penerus mahkota Raja Kraton terbatas. Sebagaimana diketahui, Sultan tidak memunyai anak laki-laki dari pernikahannya dengan GKR Hemas. Di lain sisi, adalah hak Sultan sepenuhnya untuk menentukkan penggantinya.

Sri Sultan Hamengku Buwono X membaca Sabdotomo di bangsal Kencana, Kraton Jogjakarta

Sri Sultan Hamengku Buwono X sedang membacakan Sabdotomo di bangsal Kencana, Kraton Jogjakarta

Demikian analisa Prof. Djoko Suryo, Guru Besar Sejarah UGM, Selasa (5/5) kemarin menanggapi munculnya Sabda Raja. Sabda Sultan ini sendiri menghapus gelar Khalifatullah dan mengangkat GKR Pembayun menjadi suksesornya. “Ini kan monarki. Jadi memang hak sultan untuk menentukkan siapa penerusnya,” katanya.

Monogami adalah pilihan sultan. Menurut Djoko, raja terdahulu punya banyak pilihan karena memiliki banyak keturunan dari para istri. Sedangkan Sultan tidak. “Ini mungkin ya, tapi kalau dilihat dari kondisinya, sekarang pilihan Sultan tidak banyak,” duganya.

Jika memang GKR Pembayun yang kini bergelar GKR Mangkubumi menjadi pemimpin Kraton, tak ada yang salah dengan itu. Pasalnya, sudah banyak contoh kerajaan di nusantara yang dipimpin oleh perempuan. “Ada contohnya Misalnya saja Aceh. Pengubahan terjadi karena memang zamannya juga berubah,” tambahnya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar