Survei 100: Kekerasan di Jogja Memprihatinkan

87 responden menjawab mulai was-was keluar malam di Jogja karena maraknya aksi kekerasan

BERITA JOGJA – Kasus kekerasan di Jogja makin marak. Kasus terakhir yang terjadi di Jogja diduga bermotif politik adalah meninggalnya DS (17) warga Bolawen, Sinduadi, simpatisan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) saat pulang mengikuti tabligh akbar.

Ia tewas setelah diserang menggunakan mercon banting. Lemparan mercon banting dari puluhan orang yang mencegat korban ini membuat DS terluka parah di bagian leher dan meninggal dunia.

Sebelum itu, ada juga teror pembacokan massal di malam tahun baru di Sleman. Tiga orang pengendara dibacok secara acak. Saat ini pelakunya, RS (19) sedang menunggu putusan hakim di Pengadilan Negeri (PN) Sleman. Ada juga teror pembacokkan lain yang meresahkan pada 2014 lalu di mana pelakunya sudah dihukum selama 20 tahun penjara di PN Sleman. Aksi kekerasan juga dilakukan oknum-oknum ketika membubarkan event atau demonstrasi.
Survei 100 Beritajogja.id (Desain: Azka Maula Satyananda)

Survei 100 Beritajogja.id (Desain: Azka Maula Satyananda)

Menggunakan teknik purposive sampling, Beritajogja.id menyurvei 100 orang berusia 19-30 tahun yang merupakan warga asli Jogjakarta. Sampling dipilih setelah melakukan melihat KTP dan domisili di empat kabupaten/kota yaitu Kabupaten Bantul, Gunungkidul, Sleman dan Kota Jogja.

Hasil survei menunjukkan sebanyak 97 responden menjawab kekerasan aksi kekerasan sudah meresahkan di Jogja. Sedangkan 3 responden tidak menjawab.  Sementara itu 87 responden menjawab mulai was-was keluar malam di Jogja karena maraknya aksi kekerasan, 13 responden menjawab tidak was-was.

“Waktu kampanye Pilkada Sleman juga ada kekerasan di daerah Jalan Damai. Waktu pemilihan kampanye Bupati Bantul juga ada kekerasan di Stadion Sultan Agung. Ya yang terlibat itu-itu saja sebenarnya. Bikin resah warga. Malam habis kejadian, saya sempat was-was jika ada aksi balasan. Kebetulan saya kalau pulang lewatnya daerah Kronggahan, tempat kejadian itu,” jelas Anton Agni Galih, warga Sleman saat disurvei oleh Beritajogja.id.

“Ya kalau tidak segera ditindak, bisa makin sering nanti ada kekerasan entah yang bermotif politik atau enggak. Kalau sudah begitu yang rugi malah warga yang enggak tahu apa-apa. Mau keluar rumah malah rakut jadi korban salah sasaran,” sambung Robby, salah seorang responden.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar