Tipe Galau, Rampok, Sampai SKA: Inilah 5 Tipe Pengendara Motor di Jogja

Oleh Jatu Raya,

5 jenis pengendara berikut ini, diidentifikasi setelah makin ramainya pengendara oleh peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM,

BERITA JOGJA – Transportasi di Jogja masih dikuasai kendaraan bermotor seperti motor dan mobil. Pertumbuhan keduanya maju pesat lalu makin menggeser angkot dan bus kota yang sempat jadi pilihan.

Motor Harley

Kendaraan bermotor (Dok.Istimewa)

Makin mudahnya beli atau kredit motor bukan berarti pengendaranya paham betul etika dan tata tertib berkendara di jalan raya. Seperti lima jenis pengendara berikut ini, bisa diidentifikasi setelah makin ramainya pengendara oleh peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM, Iwan Puja Riyadi

Tipe Galau

Pengendara tipe galau ini paling membahayakan pas di pengkolan. Lampu sein ke kiri tapi tiba-tiba belok ke kanan. Sering ada kecelakaan gara-gara kegalauan tipe pengendara seperti ini.

Tipe Cuek

Pengendara tipe cuek ini kebalikan bahkan lebih parah dari tipe galau kalau di pengkolan. Bisa belok tanpa lampu peringatan. “Lha ya sering kita lihat yang begitu. Dampaknya kalau enggak kecelakaan, merugikan orang lain, atau sampai bisa berkelahi,” jelas Iwan.

Tipe Balap

Sesuai namanya, tipe yang satu ini suka menggeber motornya secepat mungkin. Entah di jalan raya atau jalan kampung, enggak pernah mau memperlambat laju motor terus ditambah mbleyer-mbleyer pula.

“Ini berkaitan dengan etika pengendara. Transportasi sekarang dengan kesemerawutannya tidak mengajarkan etika apa-apa. Yang penting cepat,” jelas Iwan.

Tipe Rampok

Bisa terlihat ketika hari libur atau Long Weekend di Jogja di ring road. Biasanya banyak mobil yang sengaja mengambil jalur sepeda motor ketika jalurnya macet. Akibatnya motor susah lewat dan kadang mengambil trotoar buat lewat.

Tipe Ska

Tipe pengendara ini mungkin mengadopsi musik ska yang bingar dengan terompet. Sering terlihat di lampu-lampu merah. Pengendara yang enggak sabaran sering banget mencetin klakson kendaraan di depannya. Belum lagi lampu hijau, klason sudah berbunyi. Bus-bus pariwisata jadi yang paling sering diklason di lampu merah.

“Kalau di Bali, enggak ada yang berani nglakson bus pariwisata. Soalnya mereka sadar bahwa bus itu mengangkut wisatawan yang bakal menyumbang pajak untuk daerahnya,” pungkas Iwan.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar