Lima orang PKL yang melakukan Topo Pepe memulainya dengan dengan berjalan kaki dari lokasi mereka biasa mencari nafkah dan mengakhiri di Alun-alun Utara, Minggu (13/9) siang. (Foto oleh Kresna)

Topo Pepe, Demonstrasi ala Jogja

Topo Pepe merupakan aksi protes warga yang dilakukan dengan berdiam diri sambil berjemur di Alun-Alun Utara.

BERITA JOGJA – Topo Pepe merupakan sebuah bentuk demonstrasi ala masyarakat Jogja. Topo Pepe atau dalam bahasa Indonesia  dikenal sebagai aksi menjemur diri di bawah teriknya matahari, lazim dilakukan oleh masyarakat Jogja untuk menyampaikan protes atau meminta perhatian dari pihak Kraton terkait permasalahan yang sedang dihadapinya. Topo pepe biasanya dilakukan pada siang hari dan diselenggarakan di Alun-alun Utara.

Lima orang PKL yang melakukan Topo Pepe memulainya dengan dengan berjalan kaki dari lokasi mereka biasa mencari nafkah dan mengakhiri di Alun-alun Utara, Minggu (13/9) siang. (Foto oleh Kresna)

Lima orang PKL yang melakukan Topo Pepe memulainya dengan dengan berjalan kaki dari lokasi mereka biasa mencari nafkah dan mengakhiri di Alun-alun Utara, Minggu (13/9) siang. (Foto oleh Kresna)

Herman Sinung Janutama melalui bukunya yang berjudul “Pisowanan Alit 1″ yang diterbitkan oleh LKiS pada tahun 2012 menjelaskan bahwa Topo Pepe dilakukan oleh rakyat Jogja baik kelompok maupun perorangan. Topo pepe bahkan bisa dilakukan hingga berhari-hari. Orang yang melakukan Topo Pepe biasanya juga akan dibarengi dengan Topo Bisu.

Pelaku Topo Pepe tidak akan melakukan aksi dengn berteriak-teriak. Mereka hanya akan duduk dan menjemur diri.

Karena sudah menjadi cara untuk menyampaikan pendapatnya, maka dalam Topo Pepe biasanya akan langsung ditemui oleh Sultan maupun perwakilannya. Nantinya, Sultan akan menampung uneg-uneg tersebut dan akan mencarikan solusinya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar