Saija dalam film Max Havelaar. (Dok Istimewa)

Tragedi Saija dan Adinda di Radio Aldo Jogja

Tragedi dalam novel Max Havelaar diangkat dalam sebuah sandiwara radio/

BERITA JOGJA – Sebelum memurahnya harga TV, radio adalah hiburan murah meriah nan gaul remaja zaman dulu. Sekitar tahun 1940-an ada sejumlah radio di Jogja yang digandrungi anak muda. Salah satunya Radio Angakatan Laut, Darat, dan Oedara (ALDO) Jogja. Soalnya ada program sandiwara radio yang cukup digemari di Radio Aldo berjudul Saija dan Adinda.

Saija dalam film Max Havelaar. (Dok Istimewa)

Saija dalam film Max Havelaar. (Dok Istimewa)

Saija dan Adinda adalah kisah tragis yang ada dalam novel Max Havelaar yang rilis tahun 1860. Kisah bermula saat tokoh Saijah merantau ke Batavia karena kerbaunya diambil Belanda. Kangen dengan Adinda, kekasihnya, tak betah dia di Batavia lalu memutuskan pulang dan berencana menikahi Adinda. Namun saat kembali ke Banten, kampungnyaa diserang Belanda sedangkan Adinda pergi ke Lampung untuk melakukan penyerangan.

Karena rindunya meluap, Saija menyusul Adinda ke Lampung. Sampai di sana Saija menemukan situasi nyaris sama dengan kampung halamanya. Kampung tempat Adinda bertempur porak poranda. Dalam keputusaasaan ia menemui kesedihan ketika mendapati kekasihnya itu mati bersama keluarganya. Dengan hati luluh lantak, Saija menyerang Belanda namun akhirnya juga menemui ajal di kampung itu.

Fragmen cerita ini disadur dan disiarkan di Radio Alda. Pengisi suara Saija kala itu adalah legenda polisi Jogja yang terkenal jujur dan melakukan perlawanan pada rezim Orba saat mengusut kasus Sum Kuning (Baca: 5 Kasus yang Tidak Tuntas di Jogja), Hoegeng. Sedangkan pengisi suara Adinda adalah Meriati Roeslani, yang kemudian dinikahi Hoegeng.

Dalam buku Hoegeng: Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa yang ditulis Aris Santoso dkk.sandiwara radio ini memberikan cerita indah pada Hoegeng dan Meriati. Awalnya, Hoegeng-berusia 25 tahun dan menjadi mahasiswa AL kala itu-menolak ketika diminta rekannya menjadi pengisi suara. Namun setelah bertemu Merianti di sana, Hoegeng langsung bersemangat. Mereka sering latihan bersama memerankan kedua tokoh itu.

Hoegeng dan Merianti tampaknya terlalu menghayati peran dalam sandiwara radio itu. Hoegeng yang tak mau bernasib sama dengan Saija langsung melamar Meriati. Mereka pun menikah pada 31 Oktober 1946.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar