Tujuh Poin Penting Hasil Kongres Umat Islam Indonesia VI

Oleh Kresna,

BERITA JOGJA – Sejak tanggal 8 hingga 11 Februari, di Jogjakarta diadakan Kongres Umat Islam Indonesia VI. Kongres yang diadakan selama tiga hari ini menghasilkan kesepakantan yang diberinama “Risalah Jogjakarta”. Dalam Risalah Jogjakarta ini terdapat tujuh poin penting yang menjadi pokok pemikiran hasil kongres. Tujuh poin penting tersebut dibacakan oleh Din Syamsudin, selaku ketua umum […]

BERITA JOGJA – Sejak tanggal 8 hingga 11 Februari, di Jogjakarta diadakan Kongres Umat Islam Indonesia VI. Kongres yang diadakan selama tiga hari ini menghasilkan kesepakantan yang diberinama “Risalah Jogjakarta”. Dalam Risalah Jogjakarta ini terdapat tujuh poin penting yang menjadi pokok pemikiran hasil kongres. Tujuh poin penting tersebut dibacakan oleh Din Syamsudin, selaku ketua umum MUI, saat penutupan kongres.

Istimewa

Istimewa

“Satu, menyerukan kepada seluruh komponen umat Islam Indonesia untuk bersatu pada merapatkan barisan dan mengembangkan kerja sama serta kemitraan strategis, baik di organisasi dan di lembaga Islam mau pun di partai politik untuk membangun dan melakukan penguatan politik, ekonomi dan sosial budaya umat Islam Indonesia yang berkeadilan dan berperadaban,” seru ketua MUI tersebut saat membacakan poin pertama.

Poin kedua, Kongres Umat Islam Indonesia menyerukan pemerintah dan kekuatan politik untuk mengembangkan politik tang ber-akhlaqul karimah. Sementara poin ketiga, meminta pemerintah agar berpihak pada masyarakat lapisan bawah dengan mengembangkan ekonomi kerakyatan.

“Empat, menyerukan seluruh umat Islam Indonesia untuk bangkit memberdayakan diri, mengembangkan potensi ekonomi, meningkatkan kapasitas SDM umat,” lanjut Din.

Kelima mereka meminta pemerintah untuk mewaspadai budaya yang tidak sesuai syarikat Islam dan budaya luhur bangsa seperti narkoba, minuman keras, pornografi dan porno aksi, pergaulan bebas dan perdagangan manusia.

“Enam, menyatakan keprihatinan yang mendalam atas bergesernya tata ruang/lanskap kehidupan Indonesia di banyak daerah yang meninggalkan ciri keislaman sebagai akibar derasnya arus liberalisasi budaya dan ekonomi,” sambungnya.

Terakhir, mereka menyerukan kepada negara-negara di Asia yang memperlakukan umat Islam secara diskriminatif untuk memberikan perlindungan berdasarkan prinsip-prinsip hak asasi manusia.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar